Bulan Kesiangan

Wajah calon mempelai wanita memerah. Dia tersipu malu saat beradu pandang dengan calon suaminya itu. Hatinya berdesir. Memang betul sesuai yang diinginkan Nauri. Selera Kiai Rasyid sangat tinggi. Namun, gadis itu tak berani berlama-lama menatap lelaki calon suaminya itu. Cepat-cepat dia menunduk malu.

“Silakan dinikmati hidangan yang ada. Hanya ini yang bisa kami persembahkan,” ucap Bu Fitri seraya mengulas senyum termanis. Setelah itu, wanita paruh baya itu menuju kamar mandi. Hasrat ingin buang air kecil tiba-tiba menerpanya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Detik demi detik berlalu, hingga belasan menit terlampaui. Nauri mencari sosok ibunya. Sebab, para tamu akan segera berpamitan. Gadis itu menuju kamar mandi. Dia mendapati pintu masih terkunci dari dalam. Beberapa ketukan dan teriakan memanggil Bu Fitri, tetapi tak ada tanggapan dari dalam.
Semua orang mulai panik. Semua rombongan tamu mengulur waktu pulang untuk menolong Nauri. Salah satu mereka mendobrak pintu kamar mandi. Sungguh membuat semua mata yang melihat itu terkejut.

Baca Juga:   Pasang ri Kajang, “Quran” Tanah Toa

“Ibuk!” jerit Nauri seraya mendekat ke jasad wanita yang sudah tergeletak di lantai itu. Dia memeriksa semua anggota vital Bu Fitri. Tangisnya tak terbendung, saat menyadari bahwa Bu Fitri sudah tak bernapas lagi.

“Maafkan aku, Bu. Aku yang tak mau mengikuti nasihat ibu untuk segera menikah. Kini, Ibu tak bisa melihatku di pelaminan nanti,” sesegukan gadis yang memangku raga ibundanya.

Baca Juga:   Penjual Mimpi

“Bulan Nauri seperti bulan yang kesiangan. Terlambat membahagiakan sang Ibu. Kasihan,” ucap lirih salah satu teman Nauri yang juga sebagai tamu di sana.
***
Riau, 3 November 2021.

ilustrasi: jeihan, artspace.id.

Tinggalkan Balasan