Bulan Kesiangan

Bu Fitri menghela napas panjang, lantas mengeluarkannya perlahan-lahan. Dadanya terasa sesak ketika putrinya belum juga mau menyempurnakan separo agama. Sebab, usia Nauri kini sudah 32 tahun. Sempat beberapa lelaki datang baik-baik untuk meminangnya, tetapi hati gadis berlesung pipit itu masih tertutup. Bu Fitri pun menganggap percuma saja bicara soal jodoh dengan putrinya itu.

“Nauri ke kamar dulu, ya, Bu. Sudah malam mau ngaji bentar, lalu tidur,” pamit Nauri.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Ya, sudah istirahat. Ibu juga mau istirahat.”

Malam semakin dingin oleh hujan lebat di luar rumah. Berbeda di dalam rumah Bu Fitri. Terasa sedikit panas antara Ibu dan anak itu karena percakapan tentang pernikahan. Mereka berdua beranjak dari tempat duduk masing-masing. Namun, tujuan mereka berbeda. Mereka masuk ke kamar masing-masing.

Baca Juga:   Perkara Niat dalam Ibadah

Nauri merebahkan dirinya di kasur. Pandangannya ke langit-langit di atasnya. Akan tetapi, mantiknya melalang buana. Dia memikirkan ucapan ibunya tadi. Sebenarnya betul juga yang dikatakan ibunya tadi. Apalagi usianya juga sudah tak muda lagi. Teman-temannya sudah menikah semua. Ada yang sudah punya anak tiga malahan. Gelisah. Namun, dia belum siap. Panjang sekali renungan gadis itu malam ini. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti kehendak ibundanya. Senin ini dia hendak meminta tolong kepada Kiai Rasyid untuk mencarikan jodoh untuknya. Menurutnya jodoh dari sang kiai insyaallah bebet, bibit, dan bobot adalah yang terbaik.
***
Langkah Nauri lembut menuju rumah utama pondok. Tepatnya rumah Kiai Rasyid. Pintu warna cokelat itu diketuknya, setelah sebelumnya menghela napas panjang terlebih dahulu.

Baca Juga:   Segunung Sekam

“Assalamualaikum ….”

Hanya satu kali ketukan dan salam dari dalam sudah terdengar jawaban salam. Terdengar suara bas dari seorang lelaki sepuh. Selang beberapa detik pintu terbuka dari dalam.

Tinggalkan Balasan