Bulan Kesiangan

“Eh, Nduk Nauri. Silakan masuk,” ucap penghuni rumah.

Nauri mengangguk pelan, lantas mengikuti titah lelaki berpeci putih itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Buk, ada Nauri ini, loh!” Kiai Rasyid setengah berteriak memanggil istrinya. Kiai Rasyid bermaksud supaya tak ada fitnah. Dua orang, lelaki dan perempuan bersama di satu ruangan. Wanita berkerudung ungu pun keluar dengan menyuguhkan senyuman termanisnya. Kemudian, dia duduk di samping suaminya.

“Ada yang bisa kami bantu, Mbak Nauri?” tanya Bu Nyai Ismah.

“Anu … begini, Bu Nyai. Saya mau minta tolong untuk mencarikan jodoh untuk saya.” Malu-malu gadis itu mengungkapkan niatnya.

Seketika Bu Nyai Ismah dan Kiai Rasyid beradu pandang. Kiai mengangguk pelan.

“Jadi sebenarnya kemarin saya dan istri sudah ingin menawarkan ini kepada Mbak Nauri. Tapi, takut Mbak Nauri sudah ada yang mau melamar, jadi kami tunda. Alhamdulillah, kalau memang belum ada. Kami sudah berencana mau menjodohkan Mbak Nauri dengan Akbar. Pengurus santri putra. Dia juga sedang mencari jodoh.”

Baca Juga:   ELEGI BUAT AYAH

Mendengar penjelasan dari lelaki di depan Nauri, rasa sesak di dadanya seketika menguap. Beban yang selama ini bersarang mulai berlengkesa. Ada setitik harapan untuknya dan membahagiakan ibu yang melahirkannya. Seusai menyatakan niatnya, Nauri bergegas minta diri. Dia tak mau berlama-lama, hingga mengganggu waktu Kiai Rasyid dan istri.
***

Jantung Nauri berdengap. Waktu terasa lama baginya. Malam ini keluarga calon suaminya beserta rombongan Kiai Rasyid akan segera datang. Meski belum paham betul tentang lelaki yang dijodohkan kepadanya. Namun, rasanya bisa mengaduk-aduk hati gadis penghafal Al-Qur’an itu. Pertama kali dia merasakan hal ini.

Baca Juga:   Perempuan dan Kasih Sayangnya

Tak lama kemudian terdengar deru beberapa mobil masuk ke halaman rumah Bu Fitri. Kemudian, suara salam satu per satu mulai terdengar. Mereka semua dipersilakan masuk dan duduk di tempat yang sudah disediakan di ruang tamu. Beberapa hidangan berupa beberapa kudapan dan minuman sudah tersedia di sana. Acara diadakan secara sederhana dengan dihadiri keluarga inti saja. Acara dipimpin oleh Kiai Rasyid. Pun beberapa wejangan dari pimpinan pondok itu dikeluarkan. Kegiatan berlangsung dengan khidmat dan lancar tanpa hambatan.

Tinggalkan Balasan