Si Jago yang Kesepian

116 kali dibaca

Udara pagi sudah mulai memudar. Polusi dari berbagai macam kendaraan sudah terasa di Pasar Selasa. Hati Mbah Darman senang sekali, mengayuh sepeda usangnya pulang dari pasar. Ayam jago yang selama ini dia incar akhirnya terbeli sudah. Ayam jago dengan bulu warna hitam semua. Kulit ayam itu pun berwarna sama.

Sesampai di rumah, dia hendak memasukkan ayamnya di kandang. Tiba-tiba seseorang datang, masuk ke halaman rumahnya yang sederhana itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Wah. Keren ini Mbah ayam jagonya. Boleh saya beli? Konon kalau untuk tarung, ini menangan,” ucap Pak Badar si tukang adu ayam seraya menampakkan giginya yang mulai menguning karena rokok.

“Ini enggak aku jual, Dar. Buat teman ngobrol saja. Aku suka warnanya. Hitam semua,” balas Mbah Darman.

Sudah setahun ini lelaki bertubuh tinggi yang kepalanya sudah penuh dengan uban itu hidup sebatang kara setelah ditinggal oleh istrinya untuk selamanya. Anak-anaknya semua sudah berkeluarga. Mbah Darman tidak mau tinggal dengan anaknya. Sudah beberapa kali anaknya yang terdekat menawari untuk tinggal bersama, tetapi lelaki itu menolak dengan halus.

“Aku bayar dua kali lipat, lah, Mbah. Mau, ya,” tawar Pak Badar seraya memindai ayam yang sudah ada di dalam kandang besi itu.

Sudah terdengar di seluruh sudut desa, bahwa Pak Badar ahli sabung ayam. Setiap kali ayam miliknya bertarung pasti menang. Dia pun cakap dalam memilih ayam yang akan dipentaskan. Kali ini lelaki berkulit cokelat itu langsung jatuh hati dan mengincar ayam jago Mbah Darman. Ingin sekali Pak Badar memiliki ayam itu.

“Ayam ini enggak aku jual, Dar. Biar jadi temanku di sini. Aku kesepian,” tekan Mbah Darman.

Sinar matahari mulai beringsut ke atas. Kali ini sudah melewati kepala manusia yang berdiri. Suara azan mulai menggema di Desa Bukit Harapan. Mbah Darman minta diri, bersiap-siap hendak melaksanakan kebutuhan insan kepada Tuhannya, yaitu salat Dhuhur. Seusai mengambil wudhu, lelaki yang sudah senja itu segera meraih peci kemudian melangkahkan kaki dengan semangat ke masjid yang tak jauh dari rumahnya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan