SARONEN

197 kali dibaca

ASMARALOKA

Mata sungai diam berandai
Ikan-ikan memilih kapan,
Berserah diri dengan koloni.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Hilir kata deras membaca
Epitaf musim yang terkebat
Angin-angin menebas ingin
Melawan suasana asmaraloka

Dalam kamus ia ada, bersuara,
Menyanyikan iga ke malamnya.

Perawan yang ditinggal diam
Jejak puisi menukar tapak
Seperti kata kehilangan asa.

Pangabasen, 2021.

ZIKIR SUNYI

Liut nada menyihir tubuh-tubuh
Terbungkam nyanyian suara meraba,
Meraba jejak tangan kedinginan.

Susut mata bibir berzikir seksama
Menjadikan ia deru di tapak waktu
Berpelukan dengan ritme kesepian.

Tak ada yang asyik selain musik,
Adakah paling erat selain hasrat?
Derai peluh setahun eksistensi.

Remang jiwa selimut nada sepi,
Mendengarkan tarian puisi malam.
Hingga malam berubah diam.

Ia, kita, dan kau merayu waktu.

Sumenep, 2022.

TUBUH WAKTU

Seperti puisi yang malam tulis,
Jarak yang rindu tidak pernah menuntut jauh apa lagi berlalu.

Bulan diam bertanya entah lebih jauh mana? Jarak tanpa tempuh atau rindu tanpa temu?

Seperti jarak yang waktu tulis di tapak jejak, Musim yang ada, tidak pernah merasa luka.

Waktu dan jarak pernah gelisah memilukan, bertanya tentang perjalanan hari ke harapan.

Entah lebih panjang waktu yang merajam rindu? Atau lebih jauh harap, yang menjauh tak menetap?

Sumenep, 2022.

SEPI

Di awal terang jejak terbayang
Sepi. Diam. Merias suara alam.

Sepi kasih bermata batin waktu
Oi bibir isap meraba sujud zikir
Intai teriak memilih apa iga ada.

Rusuk bibir tulang memandang

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan