Senja di Kebun Kapulaga

Bau asap rokok melesat memenuhi rongga penciumannya. Matanya sibuk mencari. Lalu ia temukan batang rokok itu masih berasap di bawah pelepah pohon pisang dan batang kapulaga. Naluri keibuannya membuncah penuh kekhawatiran. Ia sibak daun-daun kapulaga yang rimbun, yang menampar-nampar wajah dan tubuh keringnya.

Pagi itu Arjuan pamit padanya untuk menengok saluran air yang mengairi dua hektare lahan kapulaga. Untuk sekadar mengairi, Surayut tak pernah menyuruh orang lain. Ketika tubuhnya masih sehat dulu, dialah yang mengerjakannya. Namun semenjak dia sakit-sakitan tak ada lagi kegiatan berarti yang dia lakukan di ladang itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Harjo, suami barunya itu hanya sesekali datang ke ladang untuk mengairi kapulaga. Tapi setelah beberapa tahun berselang, Harjo lebih sering menyuruh orang untuk melakukan pekerjaan ringan itu. Ia sendiri menghabiskan waktunya di warung kopi tengah pasar atau bertandang ke bar-bar. Dan sejak itulah Arjuan yang mengairi ladang kapu laga serta mengurusnya.

Baca Juga:   Mbah Komplang

Puncak kekhawatiran itu dirasakan Surayut tatkala melihat sesosok tubuh tak bernyawa ditimbun dedaunan kapulaga. Tampak di depan matanya ada telapak tangan yang menyembul di antara dedaunan. Surayut terus mendekat. Lalu dadanya seketika terkesiap. Mayat itu adalah Arjuan, anak semata wayangnya. Mulut anaknya bersama suami pertama itu penuh busa. Sontak, Surayut berteriak-teriak histeris di tengah ladang kapulaga yang jauh dari pemukiman itu.

Arjuan kehilangan nyawanya hanya beberapa saat sebelum resmi menjadi mahasiswa. Surayut gelisah. Seolah hidupnya telah habis tak bersisa.

Baca Juga:   Senja di Kuburan Bapak

Arjuan keracunan obat hama, begitu orang-orang menduga. Surayut pun linglung kehilangan buah hatinya.

“Sudahlah. Yang pergi biarkanlah pergi. Tidak perlu terlalu disesali,” desis suaminya.
Surayut melongong bengong.

“Ayo kita tengok senja di ladang kapulaga. Udara senja di sana akan menghiburmu. Daun-daunnya begitu rimbun, menyejukkan mata. Apalagi tandan buahnya sudah penuh. Kita akan kaya,” suaminya menyambung ucapan.

One Reply to “Senja di Kebun Kapulaga”

Tinggalkan Balasan