Senja di Kebun Kapulaga

“Ladang itu akan kujual sebagian, untuk kuliah Arjuan,” ucap Surayut lembut dengan tatapan kosong.

“Dia akan menyembuhkan penyakitku.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Kau mengigau. Mari kuajak ke sana untuk menenangkan diri,” ucap suaminya.

Sepasang suami istri itu kemudian menuju ladang menggunakan mobil berwarna hitam. Langit sore menjuntai memberi warna saga. Angin berembus pelan, meniup dahan-dahan. Sesampainya di sana mereka duduk di dangau pinggir ladang. Menatap perbukitan yang memerah oleh senja.

“Kaulah yang menemukan mayat anakmu. Di tengah ladang dekat selokan pengairan itu. Bagaimana kau mengatakan dia masih hidup?”

Surayut tak menyahut. Matanya nanar dan layu memandang kejauhan yang tak menjanjikan harapan.

“Aku belum percaya anakku pergi secepat itu.”

“Kematian tak mengenal waktu,” suaminya itu menyahut sembari menyeruput kopi.

Baca Juga:   Pudarnya Pesona Lely

“Padahal dia sudah dinanti masa depan yang indah. Kepintarannya akan menuntun dia menemukan jati diri. Dia belum seharusnya mati.”

“Lalu?”

“Kematiannya tidak lazim.”

“Apa makasdmu?”

“Mungkinkah pemuda terdidik seperti dia melakukan bunuh diri? Untuk apa? Tak ada masalah yang ditanggungnya.”

“Bisa saja dia baru diputus pacarnya,” sahut Harjo, suaminya.

“Semua gadis memujanya. Tak mungkin dia patah hati. Kalau membuat hati orang lain patah, bisa jadi. Tapi dia tak sejahat itu pada perempuan. Aku tak pernah mengajarinya menghianati cinta.”

“Siapa tahu membuat hati orang lain patah menjadi penyebab hatinya gundah lalu hilang kewarasan,” Harjo menyahut.

“Kau ngarang.”

“Siapa pula yang bilang bunuh diri? Orang-orang bilang dia keracunan obat tikus, kau tak percaya?” Harjo memutar balik pernyataannya.

Baca Juga:   Pembawa Kebahagiaan

“Ah, aku tak percaya itu!” Surayut memekik penuh emosi.

“Kau tak lihat puntung rokok itu? Dia menyentuh racun tikus di selokan, atau pojok ladang, atau entah di mana aku tak tahu, lalu tangan kotornya menyentuh rokok. Dan ternyata kepintarannya tak mampu menolak racun yang menjalar di tubuhnya,” suami Surayut itu menyingkap kronologis tragis yang menjadi musabab kematian anak tirinya.

One Reply to “Senja di Kebun Kapulaga”

Tinggalkan Balasan