Anjay

78 kali dibaca

Saya pernah mencoba menyaring dan membendung kata-kata. Anda tahu hasilnya? Gagal total! Dan saya mengaku kalah, bersalah.

Hal itu terjadi saat anak saya memasuki masa belajar bicara. Saya tak ingin, dalam hidupnya yang masih murni-bersih itu, ia mengenal kosa kata yang diberi konotasi buruk. Misalnya, saya tak mau mengenalkan kepadanya kosa kata “bohong”, “bodoh”, “khianat”, “tipu”, “maling”, dan sejenisnya, dengan segala turunannya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Jika ada seseorang yang berbohong, maka saya akan menyebutnya dengan istilah pengganti “mengarang”. Dengan begitu, misalnya, jika ia bertanya kenapa apa yang diomongkan seseorang berbeda dengan fakta yang sebenarnya, saya akan memberi jawaban: “dia sedang mengarang,” bukan “dia sedang menipu.”

Begitu pula dengan kosa kata lainnya dan yang seterusnya itu; saya akan selalu mencari kata atau kalimat pengganti “yang baik-baik saja”. Tujuannya, agar selama masa tumbuh-kembang itu, anak saya tak pernah mengenal kata-kata yang diberi konotasi buruk. Agar tak ada kata yang diberi konotasi buruk dalam kamus hidup anak saya. Dengan demikian, impian saya, anak saya akan jauh dari perilaku buruk karena terhindar dari pengaruh kata-kata buruk.

Lalu apa yang terjadi?

“Ah, lu boong, San…”

“Ih, anjrit emang lu, San…”

Woy, anjay… Keren abis ini, gais…”

Itulah beberapa penggalan percakapan anak saya dengan sejumlah teman sekolahnya. Akhirnya saya paham, kata-kata memang seperti air. Dibendung dari sisi mana pun, ia akan merembes, mencari jalannya sendiri. Di rumah, pengenalan dan penggunaan diksi boleh dibatasi. Tapi di luar rumah, di sekolah, atau di lingkungan sosialnya, anak-anak selalu punya caranya sendiri untuk mengenal dunianya, mengenal bahasanya.

Maka terasa menggelikan bila akhir-akhir ini orang ramai ada yang memperkarakan munculnya kata “anjay”, dan meminta pengucapnya untuk dipidana. Konon, karena “anjay” telah menjadi media perundungan (bullying).

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan