Blumbang

280 kali dibaca

Siang menjelang sore, Mbah Nyai tergopoh-gopoh membuka pintu, lalu tangannya yang ringkih menggaruk-garuk tanah di depan rumahnya untuk menemukan kerikil atau pecahan genteng atau bata. Apa yang ditemukannya kemudian ia lemparkan ke arah timur, ke blumbang. Plung-plung-plung!

“Berisiiiiikkk…!” suara Mbah Nyai melengking.

Advertisements

Anak-anak yang sedang bluron, berlompatan terjun ke air byar byur-byar byur dengan tawa yang berhamburan, sontak mentas dan berlarian ke segala arah untuk bersembunyi dengan tubuh mereka yang masih telanjang. Lalu sunyi. Ketika sayup-sayup terdengar Mbah Nyai menutup pintu rumahnya, dengan berjalan jinjit, anak-anak itu kembali ke blumbang, menceburkan tubuh-tubuh mereka ke dalam air tanpa menimbulkan riak.

Persis di sisi utara langgar blumbang itu berada. Panjangnya sekitar sepuluh meter dengan lebar enam meter. Kedalaman blumbang itu satu setengah meter, namun di sisi masuk blumbang diberi undakan cukup tinggi sehingga kedalamannya tak lebih dari semeter.

Ke arah barat dibuat saluran air untuk menyodet sungai yang tak jauh dari blumbang itu. Aliran sungai itu berhulu di Dambuntung, tak jauh dari langgar. Disebut Dambuntung karena ia merupakan bendungan terakhir dari salah satu kanal irigasi di Banyuwangi selatan. Air dari sungai itu kemudian mengalir ke blumbang, dan ketika blumbang penuh airnya akan meluber melalui pembuangan ke sisi timur. Melalui sungai kecil yang berkelok-kelok, air buangan dari blumbang itu jatuh ke kali yang lebih rendah.

Jika di sisi selatan adalah langgar, di sebelah timur terdapat bangunan seluas langgar itu yang menjadi tempat anak-anak saban malam mengaji. Mereka, yang sering keluyuran malam atau enggan pulang ke rumah, juga tidur di bangunan itu. Langgar dan bangunan itu dihubungkan oleh jalan yang sebenarnya berupa batu dan bongkahan semen yang dijejer memanjang. Anak-anak yang dari langgar hendak berpindah ke bangunan itu atau sebaliknya harus berjalan melewati batu-batu, kadang dengan sedikit melompat jika jarak antara batu-batu itu terlalu lebar untuk kaki anak-anak.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan