duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Perempuan, Seni, dan Pesantren

Kesenian tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kesenian tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi rasa keindahan, tapi juga sekaligus sebagai media ekspresi kreativitas manusia. Kesenian tidak mengenal jenis kelamin, karena ukuran setiap kesenian adalah karya yang memiliki dimensi estetik. Apa pun jenis kelamin seseorang, kalau dia bisa menghasilkan suatu karya atau berada dalam karya yang berdimensi estetik, maka sebenarnya dia berada dalam lingkup seni.

Baca Juga:   Bercermin Pada Sosok Abdullah bin Umar

Berbicara mengenai perempuan dalam seni, bisa dibagi dalam tiga posisi: sebagai obyek, subyek (kreator), dan pelaku seni. Posisi pertama perempuan berposisi sebagai sumber inspirasi, model, atau hasil dari suatu karya seni. Tidak peduli karya seni tersebut hasil kreasi lelaki atau perempuan. Sedangkan, pada perspektif kedua, perempuan diposisikan sebagai kreator atau pelaku yang menghasilkan karya seni.

Advertisements
Cak Tarno

Pada posisi pertama, kita bisa melihat berbagai sosok dan karakter perempuan dalam berbagai karya seni. Dalam dunia sastra, kita bisa melihat sosok Nyai Ontosoroh dalam novel tetralogi Pramoedya Ananta Toer (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Ronggeng Dukuh Paruk dalam novel karya Ahmad Tohari, Novel Pronocitro karya Romo Mangun Wijaya, dan sebagainya.

Baca Juga:   Nasi Goreng Sumardin

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan