Kamar Kosong

“Siapa perempuan itu?” tanyaku, namun ia hanya terdiam membisu penuh misteri. Aku yakin, perempuan paro baya itu tahu tentang rahasia kamar kosong dan perempuan yang sering menghampiri di dalam mimpiku dan ia benar-benar ada, tidak hanya di dalam mimpi.

Setelah aku desak, pembantuku memberi isyarat lagi, bahwa ada seseuatu hal yang pernah terjadi. Tetapi, isyarat yang ia berikan tidak mampu untuk kuterjemaahkan. Ia membuat lingkaran dengan kedua tangannnya menyerupai hati. Kemudian lingkaran berbentuk hati itu terpisah saat ia renggangkan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

***

Sejak bayi, aku tidak pernah melihat ayah dan ibu hidup bersama. Yang aku tahu, hanya foto di dalam pigura yang ayah simpan di gudang. Aku juga tidak mengerti mengapa ayah tidak memasang foto itu dan membiarkannya usang penuh debu. Apa ini ada hubungannya dengan perempuan buruk rupa yang selama ini menghantuiku?

Baca Juga:   Si Bisu Mengaji

Aku juga tidak tahu, perempuan berambut panjang, berwajah buruk, berbola mata merah menyala itu benar-benar ada atau sedakar mimpi atau bahkan perempuan itu tidak pernah ada, yang ada hanyalah khayalanku semata. Ayah seperti merahasiakan sesuatu. Ia tak pernah menceritakan jika ada hantu di rumah ini? Atau mungkin, ayah tidak tahu tentang adanya hantu di rumah ini. Tetapi, aku rasa ayah pasti tahu dengan apa yang terjadi.

Baca Juga:   Surat Rindu untuk Ayah

***

“Tadi malam, aku bertemu hantu,” ucapku pada ayah. Ayah seperti tak percaya padaku. Ia hanya tersenyum mendengar cerita yang benar-benar aku alami.

“Kamu terlalu banyak menonton film horor,” jawab ayah singkat.

Memang orang dewasa seperti itu, tidak pernah percaya dengan apa yang dikatakan anak kecil.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Yah?”

“Tidak ada apa-apa,” ucapnya sambil menciumku.

Tinggalkan Balasan