Kamar Kosong

Di malam hari, aku mendengar suara lonceng jam berbunyi berasal dari kamar itu, di waktu tengah malam. Hanya di waktu tengah malam. Anjing-anjing di luar sana melolong saling sahut. Di musim kemarau, angin membawa hawa dingin yang membuat malam menjadi kelam. Itu sudah cukup bagiku untuk merasa takut dan untuk melawan rasa takutku, aku bersembunyi di balik selimut.

Aku kira, ayah menjawab dengan mengarang-ngarang sebuah cerita saat aku bertanya, ada apa di kamar itu? Tentu, aku sebagai salah satu penghuni rumah ini perlu tahu yang sebenarnya. Ayah mengatakan, jika di kamar itu adalah sebagai tempat untuk penyimpanan benda-benda pusaka keluarga.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Jika kamu ingin masuk ke sana, kamu harus berumur tujuh belas tahun dulu,” ucap ayah.

Baca Juga:   Yang Terhormat Pak RT

“Kenapa begitu?” tanyaku. Aku tahu, dari wajah ayah, menandakan kalau ia sedang kebingungan mencari jawaban. Persekian detik, ayah baru menemukan jawabannya.

“Karena jin yang ada pada benda pusaka itu tidak suka dengan anak kecil.”

“Memangnya kenapa anak kecil sepertiku sampai-sampai jin itu tidak suka?” Ayah terdiam. Aku yakin sekali, jika kenyataannya tidak seperti itu.

Pada suatu malam di musim semi, aku hendak ke kamar mandi, ada bayangan mengikuti langkahku. Aku berbalik badan, tetapi bayangan itu lenyap. Bayangan itu selalu menguntit dari belakang punggungku.

Sesampainya ke kamar mandi, aku melihat dari pantulan kaca, bayangan itu tampak jelas seperti perempuan yang ada di mimpiku. Benar-benar perempuan yang ada di mimpi-mimpi burukku. Sejenak aku tidak bisa berkata-kata. Selanjutnya aku menjerit sampai pembantuku menghampiri.

Baca Juga:   Kekasih Allah

Pembantuku membantu aku berjalan ke sofa di ruang tamu sambil menyodorkan air putih. Ia memberi isyarat dengan menyilangkan telunjuk, lalu membuka telapak tangannya dengan melambaikannya. Pertanda tidak ada apa-apa. Ia juga menyatukan telapak tangan kanan dan kiri, menempelkan ke pipi. Ia menyuruhku untuk masuk ke kamar untuk kembali tidur. Ia selalu menemaniku ketika ayah tidak ada di rumah. Sudah lama ia bekerja di rumah ini.

Tinggalkan Balasan