Kamar Kosong

***

Lambat laun, aku mulai terbiasa dengan kedatangan hantu perempuan itu. Ia mengubah wujudnya di hadapanku menjadi perempuan yang meneduhkan. Ia cantik, walaupun ia sebenarnya hantu. Kami semakin akrab. Aku sering bercerita hari-hariku di sekolah dan hal-hal lain yang menurutku harus diceritakan. Hantu itu benar-benar menyenangkan dan tempat yang nyaman untuk bersandar. Ia adalah teman yang setia yang belum pernah aku temukan selama ini. Selalu datang di saat aku butuh. Sungguh hantu yang baik, meskipun kadangkala ia tak mengubah wujudnya menjadi perempuan cantik, aku tetap senang atas kedatangannya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Aku tak peduli jika aku berteman dengan hantu. Aku tak pernah kesepian lagi, jika ditinggal ayah keluar kota. Bahkan aku tidak perlu ditemani pembantuku yang bisu itu. Meskipun hantu, aku rasa tak ada yang lebih menyenangkan dari siapa pun, termasuk ayahku sendiri. Setiap malam, aku selalu tertawa riang di kamar. Sampai suatu malam, gelak tawaku terdengar oleh pembantuku. Ia mengetuk-ngetuk pintu. Aku membuka pintu, tetapi ia tidak melihat sesosok hantu yang duduk di tempat tidurku.

Baca Juga:   Senja di Kebun Kapulaga

Hantu itu sudah kenal baik denganku, bahkan juga ia menganggapku sebagai teman dekat. Aku tidak keberatan dengan hal itu, meskipun ia adalah hantu. Apa yang membedakan antara hantu dengan manusia, jika hantu lebih baik?

“Aku senang mendatangimu, karena aku suka dengan anak sepertimu.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Entahlah, Delina. Menurutku, tidak ada alasan untuk tidak menyayangimu.”

Baca Juga:   Karomah Santri dari Desa

Hantu itu pernah bercerita kepadaku, tentang seorang perempuan yang dibunuh oleh suaminya dan jasadnya tidak dikuburkan. Lelaki itu pasti tidak punya hati, sehingga membunuh istrinya sendiri.

“Maukah kamu menerima kado pemberian dariku?” ucapku. Ia agak terkejut. Aku menyodorkan kado itu kepadanya.

Tinggalkan Balasan