Kamar Kosong

Aku selalu mencium aroma dupa dari kamar yang tak seorang pun diizinkan masuk. Kamar itu selalu terkunci untuk siapa pun, kecuali ayah. Sejak bayi sampai umur sembilan tahun, aku tidak tak pernah mengetahui isi kamar itu. Ayah melarangku masuk ke dalamnya dengan alasan entah mengapa.

Ketika ayah masuk ke dalam kamar itu dan meletakkan dupa, aku bisa merasakan suasana yang ganjil. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan, ketika ayah masuk ke dalamnya. Pernah suatu hari, aku mencoba mengintip kamar itu, tetapi ayah langsung mencegahnya, menarik lenganku dengan tangannya yang perkasa. Ia langsung memarahiku dengan wajah yang benar-benar penuh amarah. Selanjutnya, aku tidak mau mengintip kamar itu lagi. Misterius dan penuh tanda tanya. Satu-satunya yang bisa aku perbuat hanyalah membayangkan apa isi dari kamar kosong itu, meskipun hal itu tidak akan menjawab apa pun, kecuali lamunan yang tak ada ujung.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Sampai aku menginjak usia remaja, rahasia kamar itu belum juga terungkap. Itu selalu menjadi pertanyaanku di waktu malam sebelum ayah memasangkan selimut untukku. Terlalu sering, pertanyaan itu aku bawa ke dalam mimpi. Aku bertemu dengan seorang perempuan berambut panjang, mengenakan jubah putih, berwajah buruk rupa seperti habis dicakar-cakar binatang buas. Bola mata berwarna merah menyala. Tentu, itu adalah mimpi buruk. Tak cuma satu atau dua kali mimpi itu menghantuiku setiap malam yang membuat aku terjaga dengan kening basah karena keringat.

Baca Juga:   Delusi Pencuri

Dengan adanya kamar misterius itu, aku tidak berani untuk lewat di depannya jika malam hari. Entahlah. Aku selalu membayangkan perempuan yang ada di dalam mimpiku akan menjeratku dengan rambutnya yang panjang. Lalu aku dicakar-cakar dengan kuku-kukunya yang runcing dan hitam. Tubuhku dilempar dari lantai dua. Sungguh mengerikan. Aku bergidik membayangkannya.

Baca Juga:   Akhir Cerita Vika dan Kakaknya

Di malam hari, aku mendengar suara lonceng jam berbunyi berasal dari kamar itu, di waktu tengah malam. Hanya di waktu tengah malam. Anjing-anjing di luar sana melolong saling sahut. Di musim kemarau, angin membawa hawa dingin yang membuat malam menjadi kelam. Itu sudah cukup bagiku untuk merasa takut dan untuk melawan rasa takutku, aku bersembunyi di balik selimut.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan