Gus Din dan Kaum Fakir

***

Gus Din membangun sebuah gubuk di tanah yang bertuliskan “Tanah Ini Milik Yayasan Nurul Ummah” dengan bambu yang ia ambil di tanah itu. Dia yakin bahwa tanah itu pastilah milik Abahnya. Dan memang benar seperti itulah adanya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Gus Din pun tinggal di gubuk itu seorang diri. Awal kemunculannya di tanah itu, tetangganya, Kakek Tua –yang enggan kusebut namanya– berburuk sangka, bahwa Gus Din telah mengambil alih pemilik tanah itu. Ia merasa tersaingi, karena sebenarnya, ia juga ingin memiliki tanah itu.

Baca Juga:   Santri dan Kedaulatan Pangan

Setiap tengah malam Jumat dan malam Rabu, tanpa ada yang tahu, diam-diam Gus Din keluar dari gubuknya dengan membawa sekarung beras yang sudah dibungkus tiga kiloan. Ia membagi-bagikan bungkusan beras itu ke rumah-rumah fakir miskin. Begitu setiap malam. Entah, dari mana Gus Din mendapatkannya.

Suatu malam Jumat, ketika membagikan beras di salah satu rumah fakir miskin, tepat di depan rumah itu, tiba-tiba perut Gus Din terasa sakit. Dadanya sesak. Ditahannya rasa sakit itu agar sampai rumah. Ia tidak ingin diketahui kebaikan yang selama bertahun-bertahun telah ia lakukan.

Baca Juga:   Haji Mabrur

Tapi apa yang diinginkan Gus Din tidak seperti yang diinginkan Tuhan, ia meninggal pada malam itu. Si fakir pemilik rumah mengantarkannya ke gubuknya. Di gubuk itu, seseorang berpakaian serba putih telah menanti jenazahnya.

ilustrasi: naishahijrah.com.

Tinggalkan Balasan