Gus Din dan Kaum Fakir

“Tak ada yang istimewa darinya, biasa saja.”

“Ya sudah, Pak, sambung nanti lagi ceritanya. Saya hendak menghadiri pemakaman dahulu.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dengan lari pemuda itu menerobos masuk ke dalam ribuan orang.

Sudah barangtentu, sebagai tetangga, kakek itu pastilah melayat. Pada akhirnya, ia melangkah menghampiri, dan bergabung di antara ribuan pelayat serba putih itu. Istrinya masuk ke dalam rumah.

Gema suara kalimat tauhid bersaut-saut, menggema di desa kecil itu. Siapa orang yang mendengar, pastilah heran, sebab, di desa kecil itu sekalipun tak pernah ada pengajian-pengajian besar digelar. Desa yang sebelumnya sepi, hari itu bergema suara sedemikian keras. Apalagi bukan dangdut, tapi suara kalimat tauhid.

Masih terheran, kakek itu clingak-clinguk ke kanan dan ke kiri, namun tak satupun di antara ribuan orang itu dikenalnya. Semua pelayat nampak asing di matanya. Ia merasa gamang. Yang lebih mengherankan lagi, tak ia jumpai satu di antara pelayat-pelayat itu berbicara. Semuanya terlihat khusyuk.

Baca Juga:   Gus Jaka dan Mukidi (2)

****

Gus Din tidaklah menikah. Pernah satu kali ia mencintai wanita, putri Kiai Masduqi, tapi setelah tahu bahwa Ning Shofi menikah dengan Gus Jamal, putra Kiai Ahmad, sampai sekarang, tak pernah ia dekat dengan wanita lagi.

Suatu ketika, Abahnya menjodohkan dengan Ning Syahidah, putri Kiai Dahlan, tapi ia menolak keras tawaran Abahnya. Beberapa kali abahnya, Kiai Muhammadun, membujuknya agar mau, tapi tetap bersikukuh tak mau. “Umurmu sudahlah matang untuk menikah, Din. Menikahlah,” begitu kata abahnya. Di antara kelima saudaranya, hanya Gus Din yang belum menikah.

Baca Juga:   Pawang Hujan

Sedari kecil, Gus Din juga tidak mau mondok, tidak seperti kelima saudaranya. Hal itu membuat Abah dan Umminya geram. Sempat ia dipaksa mondok di daerah Yogyakarta, tapi seminggu setelahnya, pengasuh pondok tersebut menelepon Kiai Muhammadun dan mengabari bahwa Gus Din tidak di pondok lagi. Mendengar kabar itu, Kiai Muhammadun menyuruh salah seorang santri, Mahmud, agar mencari Gus Din. Layaknya seorang santri yang harus patuh pada kiainya, maka Mahmud pun demikian.

Tinggalkan Balasan