Masa Depan Islam: Keraguan Toynbee, Optimisme Fazlur Rahman

383 kali dibaca

Ketika sejarawan Inggris, Arnold J. Toynbee, dalam Civilization on Trial (1948) menulis ihwal jalan hidup bangsa Muslim dalam menghadapi modernisasi, nadanya penuh keraguan. “Islam, in entering into the proletarian underworld of our later day Western Civilazation, may eventually compete with India and the Far East and Russia for the price of influencing the future in ways that may pass our understanding.”

Bagi Nurcholis Madjid, penggalan itu menyisakan harapan sekaligus keraguan. Harapan kepada bangsa-bangsa Muslim untuk aktif berpartisipasi dalam usaha mengembangkan peradaban modern. Juga sebuah keraguan, akankah mereka dapat berpartisipasi dalam usaha itu.

Advertisements

Suatu modernitas ditandai dengan adanya kreativitas manusia dalam ikhtiar mendedah jalan keluar mengatasi kesulitan dalam hidupnya. Pandangan ini, dalam tilikan Toynbee, memiliki jalinan historis ke orang Barat menjelang akhir abad ke-15 Masehi kala mereka berterima kasih tidak kepada Tuhan saat berhasil mengatasi kungkungan Kristen abad pertengahan, namun kepada dirinya sendiri. Suatu kenyataan antroposentrisme di Barat kala itu yang lebih mengagungkan nalar ketimbang Tuhan.

Baca juga:   Amal Ikhlas

Modernitas yang kemudian melahirkan anak kandung bernama materialisme berkat kreativitas manusia itu, sungguh memiliki implikasi yang tak dapat dihindari. Berawal dari temuan-temuan teknologi yang menandakan peralihan zaman dari Zaman Agraria ke Zaman Teknik (Technical Age) hingga urusan agama yang menyimpan dimensi ajaran etis, menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam.

Di satu sisi, Zaman Teknik memberikan kontribusi besar bagi peradaban manusia, berupa kemudahan yang disuguhkan di dalamnya. Sedangkan, di sisi yang lain usaha-usaha untuk menikmati produk Zaman Teknik itu kerap mengantar kita ke tubir berhala materialisme.

Baca juga:   Dari Pojok Muktamar NU

Hasrat hidup sejahtera pun lalu tak terpacak kuat dan menjadi etos kerja di atma kita, hingga membuat kita alpa akan batasan-batasan moral agama. Demikianlah, hakikat modernisasi, khususnya bagi negara-negara berkembang termasuk bangsa-bangsa Muslim, selalu bermakna perjuangan mencapai taraf hidup yang lebih tinggi dan makmur. Tendensi serta perjuangan manusia untuk meningkatkan taraf hidup duniawinya semacam itu, meminjam bahasanya Nurcholis Madjid, mesti diusahakan untuk bisa terarah dan terkendali. Salah satunya dengan mengupayakan adanya pemahaman terhadap gejala-gejala kompleksitas kehidupan modern.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan