Gus Din dan Kaum Fakir

“Cari Fahruddin sampai ketemu!” perintah Kiai Muhammadun pada Mahmud.

“Injih, Yai.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Dengan langkah mundur ke belakang dan beringsut-ringsut, Mahmud menjauh dari Kiai Muhammadun, lalu keluar dari gerbang pondok pesantren hanya berbekal keyakinan. Namun apa guna keyakinan tanpa tujuan?

Sesampainya di depan gerbang pondok, tak tahu Mahmud akan bagaimana. Dalam kebingungan itu, Mahmud ingat Umar, teman sekamarnya yang menjadi pelayan di ndalem Kiai Muhammadun, pernah mengatakan bahwa Gus Din mondok di Yogyakarta, di Bantul.  Ia pun menumpangi bus untuk ke Bantul.

Sampai terminal Giwangan, macam membalik telapak tangan, tak sengaja Mahmud menemukan Gus Din yang sedang merokok di kursi halte. Tanpa ba-bi-bu, ia menghampiri Gus Din, menundukkan kepala dan bersalaman. Gus Din tak tahu siapa Mahmud.

Baca Juga:   Segunung Sekam

“Saya santrinya Abah, Gus, diperintah untuk menjemput dan mengajakmu pulang ke ndalem.

Keduanya lalu pulang. Mahmud mengantarkan Gus Din sampai di depan ndalem. Kiai Muhammadun keluar.

“Terima kasih, Kang.”

“Injih, Yai.”

Sementara Gus Din langsung masuk ke dalam. Kiai Muhammadun kembali ke dalam rumah setelah mengatakan “terima kasih” kepada Mahmud. Tidak ada Gus Din di ruang tamu. Ia menuju kamar Gus Din.

“Jangan malu-maluin Abah, Din!” bentaknya.

Gus Din diam saja.

“Kenapa kamu keluar pondok?!”

“Gapapa, Bah,” jawabnya dengan wajah pucat.

“Mulai hari ini, aku serahkan semuanya kepadamu! Abah tak mau lagi mengaturmu!”

Baca Juga:   Air Mata Mas Gending

Gus Din keluar kamar, bersalaman dengan Abah. Abah kaget. Gus Din Lalu menghampiri Ummi, bersalaman juga. Setelah dirasa cukup, Gus Din keluar rumah, melewati gedung-gedung pesantren dengan dilihati banyak santri, gerbang pondok, dan entah. Ia belum menemukan rumah untuk tempatnya singgah.

Sebenarnya, Kiai Muhammadun tidaklah tega hati melihat Gus Din seperti itu. Tapi baginya, anak seumuran Gus Din tidaklah boleh dimanja. Hal itulah yang mendasarinya mengatakan seperti itu. Ia ingin mendidik Gus Din lebih mandiri.

Tinggalkan Balasan