Zikir Daun Siwalan

Di atas sana mereka selalu menaruh telinganya pada batang pohon siwalan. Bersembunyi di balik semak belukar dengan mata pejam menikmati senandung bait-bait zikir. Semakin sore senandung zikir itu membuat hati mereka luruh. Terhanyut pada setiap keindahan kalimat di dalamnya. Tak sedikit sebagian mereka menangis tersedu dengan linang air mata penyesalan yang tumbuh dari dalam lubuk hati paling dalam.

“Dengar itu. Sangat indah bukan lantunannnya.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Iya, betul. Tapi di mana pelantun zikir itu, di sini tidak ada siapa-siapa.”

Seharian di atas bukit, barulah mereka turun ketika azan maghrib berkumandang. Meski mereka selalu pulang dengan tangan hampa, tak membuat mereka putus asa. Justru rasa penasaran itu semakin menyeret langkah mereka untuk segera kembali ke atas bukit.

Baca Juga:   Dari Bedah Buku Negara Rasional

***

Hari ketiga bulan Rajab, warga kampung Toteker kembali dibuat gempar. Tersirat berjuta kepanikan menyelimuti setiap sudut-sudut rumah warga. Tak kenal waktu gerimis air mata mereka menetas dari selaput mata, mengaliri lekuk pipi yang serupa lereng bukit Garincang. Sehingga setiap mereka menatap pohon siwalan, bergetarlah hatinya. Terselubung rasa kehilangan yang teramat dalam pada sepucuk kenangan syair zikir yang membuat mereka merasa tentram.

“Kenapa lantunan zikir itu tiba-tiba hilang?” tanya seorang warga dengan nada pilu.

“Entahlah. Apa mungkin malaikat penunggu bukit itu telah kembali ke asalnya?” pertanyaan itu dijawab serentak dengan gelengan kepala warga yang kebingungan.

Baca Juga:   Misteri Pensil Arga

Sore hari ketika matahari sejengkal di atas peraduannya, derap langkah kaki warga menyesaki jalan setapak di lereng bukit Garincang. Setiap langkah mereka terangkat timbullah benih-benih kerinduan. Maka dengan bibir bergetar mereka menyairkan kalam mutiara zikir daun siwalan yang telah hilang.

‘Ilaahii lastu lilfirdausi ahlan, walaa aqwaa ‘alan naaril jahiimi. Fahabli taubatan waghfir dzunuubii, fainnaka ghaffirudzanbi ‘adhiimi’.

Tinggalkan Balasan