Sepatu Maradona dan Kaus Kaki Anakku

Apa yang menarik dari sebuah sepatu? Tak ada! Sebab apa? Sebab dia tak punya satu tangan pun. Tak ada tangan manalah dapat menarik apa-apa. Ah, apa pula ungkapan mengada-ada ini aku tuliskan di sini. Mohon maaflah sebab hal-hal yang tak penting ini terpaksa terbaca.

Kalau yang ini baru serius. Dulu, pada zaman aku masih di Sidimpuan, kalau tak salah pada saat aku masuk kelas lima abang aku datang dari Jakarta. Abang aku alhamdulillah sudah kerja di sana. Sekali dua tahun ia balik kampung dan berhari raya dengan keluarga. Abang aku belum menikah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tadi dini hari abang sampai di rumah. Aku hanya dengar samar-samar saja. Mak terbangun sebab ada yang ketuk-ketuk pintu rumah. “Dah sampe rupanya, Nak!” sapa mak begitu ia buka pintu. Aku dengar sayup-sayup mereka bercakap-cakap sebentar. Entah apa-apalah yang orang dewasa bicarakan.

Baca Juga:   Kiai Syukri di Antara Sabar dan Syukur

“Jadi kau dapat cuti berapa hari….” habis itu hilang aku tertidur pulas lagi.

Subuh sudah datang. Aku rasa mukaku diperciki air.

“Bangun! Bangun! Katanya mau kek Maradona. Mana ada kalau jam gini masih tidur,” Abang rupanya yang bangunkan aku. Aku lihat badannya yang lumayan tinggi dan besar berdiri di hadapanku. Pantaslah ia terlihat besar. Aku dan dia berjarak delapan belas tahun. Aku bangun. Ia memberikan kain sarung padaku dan kami berangkat ke surau terdekat untuk salat subuh.

Baca Juga:   Infak Si Yatim

Singkat cerita, pada pukul sembilan siang itu dia minta aku menemaninya pusing-pusing kota. Aku ikut saja. Dia panggil becak mesin dan kami pun berangkatlah.

Rupanya dia mengajak aku ke Pajak Batu. Orang kami menyebutnya Pajak Batu karena pajak itu memanglah terbuat dari batu. Oh iya, aku lupa di kami pajak itu sama dengan pasar kalau di tempat lain.

Tinggalkan Balasan