Salah Kaprah Soal Kejawen

364 kali dibaca

Banyak yang berasosiasi mistik dan klenik jika mendengar kata kejawen. Satu kata yang diasosiasikan sebagai laku-laku spiritual yang penuh dengan hal-hal ghaib khas orang Jawa ini rupanya mempunyai cerita panjang dan salah tafsir. Tidak heran jika banyak di antara kita yang mempersamakan laku spiritual orang Jawa adalah kejawen, mungkin karena namanya ada jawa-jawanya kali ya. Padahal, kejawen bukanlah hal yang seram dan mencekam.

Konsepsi pertama adalah, jika membicarakan mengenai laku spiritual khas Jawa atau Nusantara, maka kejawen bukanlah sebuah terminologi yang cocok. Karena, kejawen sendiri baru muncul saat era Wali Songo. Dalam buku Ketua LESBUMI NU, Agus Sunyoto, beliau menjelaskan bahwa agama asli Jawa adalah Kapitayandan bukan animism, dinamisme, atau kejawen.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Lalu, sebenarnya dari mana datangnya istilah kejawen ini?

Dalam artikel kali ini, penulis mendasarinya dari sumber yang terpercaya, yaitu sebuah Induk Ilmu Kejawen yang ditulis oleh Damar Shasangka. Isi dari buku tersebut adalah terjemahan dari kumpulan Wirid Hidayat Jati, sebuah informasi-informasi kejawen dari Kanjeng Sunan Kalijaga dan diteruskan oleh Kanjeng Sultan Agung Prabhu Anyakrakusuma, dan dilanjutkan lagi oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Wirid Hidayat Jati adalah rujukan utama bagi penganut Kejawen. Jika ditelusuri, Kejawen pada mulanya diprakarsai oleh para Wali Songo. Karena pembawanya adalah para wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, tentu saja aromanya adalah Islam tasawuf. Ajaran Kejawen bahkan ditulis dengan Bahasa Jawa baru dan naskah-naskah aslinya masih disimpan rapi di Keraton Surakarta, Keraton Yogyakarta, Pakualaman, Mangkunegara, dan Kecirebonan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan