Sapi Ke Sam

184 kali dibaca

Sebelum subuh rebah di pekarangan, Ke Sam berangkat menuju sumur di depan rumahnya. Bulir embun masih segar membeku di rerumputan saat kakinya melewati jalan setapak. Ia menembus gelap dengan dua ember dan sebilah bambu. Dingin subuh memperlambat langkah kakinya yang tua.

“Sudah sejak kecil aku bekerja menjadi pengembala sapi,” gerutunya pada diri sendiri sambil terus menarik tali penimba air sumur. “Tapi tak juga aku puas dengan hasilnya!”

Advertisements

Suara air dari timba ke ember yang luber memenggal kenangannya. Kemudian, Ke Sam memikul kedua embernya menuju kandang. Malam yang belum penuh hilang mengganggu penglihatannya. Batu cadas yang terserak sepanjang jalan, membuat Ke Sam berjalan terseok-seok. Hati-hati  ia tapaki jalan yang penuh serakan batu cadas.

Saat kaki kanannya hendak menaiki undakan batu besar, ia terpeset. Kepalanya terbentur batu. Di tengah tegalan yang gelap dan dingin, ia merasakan perih di kepala, diikuti aliran darah. Ia terus mencoba berdiri meski berkali-kali, tapi gagal. Ia baru bisa sempurna berdiri setelah dibantu Mat Sukip, petani yang hendak pergi ke ladangnya.

“Mbah sudah tua, lebih baik berdiam diri di rumah saja,” ucap Mat Sukip sambil menggandeng Ke Sam menuju rumahnya.

“Usiaku memang tua, Kip, tapi semangat taniku tetap.”

“Saya petani juga, Mbah, tapi pada saat badanku sepertimu, niat bertani dan mengembala sapi harus kupadamkan.”

“Kamu terlalu pengecut untuk medapat sebutan sebagai penggembala sapi, Kip.”

Perlahan rona wajah Mat Sukip memerah. Ia seakan ditampar anak kecil di tengah kerumunan orang-orang dewasa.

“Maskudnya, Mbah?” Ia menghentikan langkahnya, dan menatap mata Ke Sam dalam-dalam.

“Mengembala sapi bukan sekadar untuk memperkaya diri, Kip. Kamu harus tahu, sapi adalah tabungan untuk kematian petani.”

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan