duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Refleksi Santri di Hari Santri

Hari Santri harus dimaknai sebagai perwujudan untuk berkiprah dalam kemajuan bangsa. Membaur dan bekerja sama untuk kemajuan bangsa. Karena kemajuan dan kebahagiaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban kita bersama. Kita tidak perlu mempersoalkan etnis, agama, dan budaya. Karena bangsa ini milik kita bersama. Maka menjadi kewajiban setiap warga negara untuk membangun kebersamaan dan bersama dalam membangun. Indonesia adalah milik semua golongan, tanpa memandang agama, etnis, dan asal-uisul daerah. Bhinneka Tunggal Ika; berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara”. (Qs. Ali Imran: 103). Ayat ini sebagai indikasi bagi kita untuk bersatu dan tidak bercerai-berai. Mempertahankan negara dari rongrongan penjajah akan mudah kita hadapi, jika kita bersatu padu dan dalam kebersamaan yang saling menguatkan.

Advertisements
Cak Tarno

Bagi seorang santri, Hari Santri harus dimaknai untuk semakin memperteguh kesadaran diri memberikan yang terbaik bagi bangsa. Terutama identitas sebagai santri terkait etika dan kesopanan. Jangan sampai nilai-nilai kesantrian itu terkebiri oleh ulah santri yang bukan sepenuhnya santri. Sebagai seorang santri, umumnya di tengah masyarakat diharapkan sumbangsih keilmuan yang diperoleh dari pesantren. Setidaknya menjaga diri sendiri dari perbuatan maksiat (keburukan), itu berarti seorang santri telah teguh dalam berjuang. Apalagi kalau berkontribusi aktif sebagai pioner di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga:   Anak, antara Amanah dan Cobaan

Refleksi Sebagai Santri

Sebagai santri harus berpegang teguh pada identitas kesantriannya. Mereflkesikan kesantrian di tengah masyarakat dengan memberikan manfaat dan tidak berbuat permasalahan. Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya).” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289). Menjadi manfaat bagi orang lain tidak segampang yang kita pikirkan. Namun, tidak ada hal yang sangat sulit apabila kita berusaha dengan kesadaran untuk berbuat baik bagi sesama.

Baca Juga:   Kesibukan Pesantren Menyambut “New Normal”

Halaman: First ← Previous ... 2 3 4 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan