Refleksi Santri di Hari Santri

Hari Santri Nasional (HSN) yang diperingati setiap tanggal 22 Oktober, kini (2020) memasuki tahun yang kelima. Itu artinya HSN sudah lima tahun mendapat legalitas pemerintah sebagai bagian tak terpisahkan dari perjuangan menegakkan kemerdekaan. Presiden Joko Widodo menetapkan HSN pada 22 Oktober 2015, yang semula diusulkan setiap tanggal 1 Muharram. Namun, dengan diskusi yang pelik tapi apik, akhirnya HSN ditetapkan pada 22 Oktober.

Penetapan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri didasarkan pada peristiwa resolusi jihad yang dicetuskan oleh Pahlawan Kemerdekaan dari kalangan ulama, KH Hasyim Asy’ari. Ulama besar sekaligus pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) ini memerintahkan para santri, ustadz, ulama, dan masyarakat muslim secara umum untuk mempertahankan kemerdekaan dari upaya penjajahan pasukan Sekutu. Kemerdekaan yang telah kita peroleh jangan sampai terlepas lagi, karena merebut kemerdekaan dan mempertahankannya merupakan harga mati. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup di bawah cengkeraman penjajah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Salah satu komponen perebut kemerdekaan, sekaligus yang mempertahankannya adalah para santri, ulama, dan kaum muslim secara umum. Kita tidak menafikan dari komponen bangsa lainnya, seperti kaum nasionalis dan umat di luar Islam. Seluruh komponen bangsa bahu membahu dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Namun demikian, pun kita jangan sampai abai dengan kaum sarungan (santri, ustadz, dan ulama) yang juga ikut andil dalam kemerdekaan. Alhamdulillah, Hari Santri adalah salah satu bentuk kesadaran pemerintah bahwa eksistensi pesantren mempunyai peran signifikan dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga:   Sastra Pesantren bagi Bangsa

Makna Hari Santri

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan