duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Bila Santri (Mau) Jadi Wartawan

Entah karena bisikan dari mana, saat dimasukkan pondok (ingat: saya tidak mondok, tapi dimasukkan ke pondok), saya justru mulai menyukai dunia tulis-menulis. Saat teman-teman santri yang lain belajar mengaji, saya malah lebih sering belajar nulis-nulis puisi, atau yang sebangsanya. Sendiri.

Baca Juga:   Beling dan Cerita tentang Kita

Ndilalah ada pengurus pondok yang ngonangi. Maka, ketika pondok mengadakan imtihan, berbagai acara digelar, saya “dihukum” untuk membaca puisi di atas panggung, berdeklamasi. Sendiri.

Advertisements
Cak Tarno

Itulah pengalaman saya yang pertama dan terakhir membaca puisi di atas panggung.

Tapi makin hari, gairah belajar menulis itu makin menjadi-jadi, dan puncaknya ketika saya kuliah sambil tetap nyantri. Tapi saya tak punya guru dalam artian harfiah. Saya belajar menulis secara otodidak, dari semua tulisan yang ada di depan mata. Dari buku, majalah, koran, dan tulisan dalam bentuk apa saja.

Baca Juga:   Barokah Kiai dan Kisah Para Udin

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

There are 2 comments for this article
  1. Rusdi El Umar
    Rusdi El Umar 16 Okt 2020 20:03

    Masih gagal paham dengan kalimat “Saya tidak mondok tapi dimasukkan ke pondok.” Apa maksudnya mondok bukan kemauan sendiri?

Tinggalkan Balasan