Nasib Pengemis

Seorang ibu muda sedang bersepeda. Sabtu pagi ini, ia menggenjot sepedanya memutari jalan perimeter kampus Universitas Indonesia. Di belakangnya, membuntuti, dua orang anaknya, lelaki dan perempuan. Juga bersepeda. Entah di mana bapaknya kita tak perlu tahu. Mungkin ia sudah jauh di depan, tapi pengarang ingin menyingkirkannya dari cerita ini.

Sepagi itu sinar matahari sudah terasa menyengat tubuh yang lekas membuat kulit ibu muda itu berkeringat. Bercucuran. Membuat kulitnya yang putih berkilauan. Di jalan yang agak menikung dan menanjak, napasnya mulai ngos-ngosan. Tapi ia ingin sehat, dan karena itu terus menggenjot sepedanya.

Advertisements
Cak Tarno

Menyusul ibunya, kedua anak itu mengayuh sepedanya beriringan di jalan yang mulai menanjak dan berkelok. Anak yang perempuan, mungkin usianya sepuluhan tahun, kehilangan keseimbangan pada kelokan jalan itu. Kedua sepeda itu bersenggolan dan brukkk… si anak perempuan ambruk.

Baca Juga:   Sang Muazin Turun Gunung

“Ibuuuu!”

Si ibu muda itu langsung menarik tuas remnya, secara refleks menoleh ke belakang, lalu tergopoh-gopoh menarik mundur sepedanya. Ia menyenderkan sepedanya pada sebatang tiang listrik, lalu menolong anaknya yang jatuh. Ia meminta anaknya yang laki-laki mengangkat dan meminggirkan sepeda adiknya.

Ketika si ibu muda itu sedang sibuk memeriksa kondisi anaknya yang jatuh, dengan cemas dan was-was kalau-kalau anaknya terluka, seorang perempuan paro baya menghampiri mereka. Perempuan itu membungkus tubuhnya dengan pakaian yang kumal, di sana-sini dipenuhi banyak tambalan. Seperti apa rambutnya kita tak bisa tahu karena dibungkus rapat dengan kerudung lusuh.

Baca Juga:   Dan Sepatu pun Menertawakanku

Ia berjalan tertatih-tatih sambil membungkuk. Tangan kanannya memegang sebuah mangkuk kosong yang terbuat dari bahan plastik.

“Kasihanilah saya, neng…,” ucapnya lirih sambil menyodorkan mangkuk kosong ke arah ibu muda yang sedang membersihkan debu-debu yang menempel pada tubuh anaknya yang baru jatuh itu.

“Kasihanilah saya, neng,” perempuan itu mengulang perkataannya ketika melihat ibu muda itu hanya menoleh tanpa ekspresi.

“Ayolah, neng… Sekadar untuk beli minum tak apa-apa. Saya haus dari kemarin belum minum.” Perempuan berpenampilan gembel itu menggoyang-goyangkan mangkuknya yang berwarna putih.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan