Nasib Pengemis

“Kasihanilah saya, neng,” perempuan itu mengulang perkataannya ketika melihat ibu muda itu hanya menoleh tanpa ekspresi.

“Ayolah, neng… Sekadar untuk beli minum tak apa-apa. Saya haus dari kemarin belum minum.” Perempuan berpenampilan gembel itu menggoyang-goyangkan mangkuknya yang berwarna putih.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Setelah memastikan anaknya baik-baik saja, si ibu muda itu bergegas menghampiri tasnya yang tergantung pada sepedanya. Mata perempuan paro baya itu melirik berkilauan ketika ibu muda itu membuka tasnya. Tapi tarikan napasnya segera terhenti ketika ibu muda itu mengeluarkan sebotol air mineral berukuran besar dari dalam tasnya.

“Ini air buat ibu saja, masih baru, belum saya minum,” ibu muda itu menyodorkannya.

Baca Juga:   Potret Danar

“Oh, maaf, tidak usah. Itu terlalu banyak buat saya,” perempuan paro baya itu menampiknya, tapi masih menyodorkan mangkuknya.

“Tidak apa-apa. Malah bagus ada persediaan buat minum ibu nanti-nanti.”

“Tidak. Tidak usah. Tidak apa-apa. Saya sukanya yang sedikit, yang kemasan gelas itu,” perempuan paro baya itu berkeras menolaknya, tanpa menurunkan mangkuknya. Tubuhnya masih membungkuk.

“Oh, ya sudah, bu. Saya hanya bisa memberi air minum ini. Maaf…,” ibu muda itu menutup percakapannya, lalu mengajak kedua anaknya menuntun sepeda mereka, berjalan menaiki jalan yang menanjak.

“Kenapa Ibu tidak memberinya uang?” tanya anaknya yang laki-laki, yang menuntun sepeda di samping kanan ibunya.

Baca Juga:   Lelaki yang Dirajam Mimpi

“Dia kan mengeluh kehausan, Nak, karena dari kemarin belum minum katanya. Makanya, tadi ibu tawari minuman,” sahut ibu muda itu sambil mengusir keringat dari lehernya.

“Dia mungkin ingin beli minuman sendiri, yang sesuai dengan keinginannya. Makanya menolak minuman yang Ibu kasih tadi,” timpal si anak perempuan yang tadi jatuh.

“Itu berarti dia menolak rezeki dari Tuhan, Nak. Pengemis, kok, menolak rezeki dari Tuhan. Itu sombong namanya. Ayo, kita gowes lagi!”

Tinggalkan Balasan