Musala Wak Ama

***

Hari ini, aku berangkat menuju kota untuk mencari pekerjaan yang layak. Di kampung sudah tidak kutemukan pekerjaan yang cocok dan banyak menghasilkan uang. Sebelum berangkat, aku tidak lupa selalu menasihatimu. Aku hanya ingin kau, yang rumahnya dekat dengan musala Wak Ama, terus-terusan berada di sana. Minimal, kau salat berjamaah lima waktu. Sebagai saudara seibu, tentu aku tetap merasa kau saudara yang utuh. Ayah kita yang tidak sama, bukan menjadi alasanku untuk tidak menasihatimu. Yang lebih penting, aku ingin kau hidup bahagia dengan istrimu yang sering kau tonjok itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Mending kau berangkat saja biar tidak sering menceramahiku,” ucapmu.

Baca Juga:   Sukamti dan Corona

“Hari ini aku berangkat, aku hanya mau pamit.”

Kau melengos mengabaikan perkataanku. Kau sudah benar-benar gila. Kepada saudaramu sendiri kau sudah tidak punya budi pekerti. Di kota, aku tidak akan menasihatimu atau meneleponmu sekadar menanyakan kabar. Bagiku kau sudah keterlaluan dan tidak pantas untuk selalu dinasihati. Biarlah kamu urusi perkaramu dengan istrimu yang masakannya tidak pernah cocok di lidahmu. Saranku, kalau kau hanya keseringan menyakiti dia, lebih baik cerai saja. Itu lebih menggembirakan bagi istrimu daripada harus memakan hantaman tanganmu di wajahnya yang halus.

Sebelum berangkat, kuharap musala Wak Ama tetap seperti itu. Sesudah aku di kota nanti, musala Wak Ama tetap memberikan kesenangan bagi orang-orang di sana. Sungguh, aku sangat senang melihat anak-anak di sana mengantre untuk sekadar mendapat bimbingan Wak Ama. Ditambah, para orang tua yang sungguh menghargai Wak Ama. Di kota, aku sudah menemukan pekerjaan yang tepat. Kuhubungi temanku yang lima tahun lalu kami sempat merantau bersama-sama. Aku juga berjanji kepada diri sendiri, uang yang kudapat akan kusisihkan untuk Wak Ama dan musalanya.

Tinggalkan Balasan