Musala Wak Ama

“Bagaimana mungkin kau menuduh Wak Amad bodoh?”

“Lihat saja, Wak Ama membimbing anak-anak gratis tanpa bayaran sepeserpun.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Bebal! Yang ada di kepalamu hanya pundi-pundi uang dan keuntungan di dunia. Sementara yang adalah dalam pikiran Wak Ama hanya pengabdian yang tulus.

Kukira, kau jauh berbeda derajat dengan Wak Ama. Itulah sebabnya, kenapa kau dengan congkak menuduh Wak Ama bodoh hanya karena tidak dibayar. Sebaliknya, kau tidak pernah tahu bagaimana perlakuan orang tua dari anak-anak yang belajar pada Wak Ama. Aku sering melihat beberapa di antara mereka memberi satu bungkus rokok —meski tidak mahal— yang cukup untuk mengepulkan asap. Kadang pula, aku melihat setiap hari Jumat orang tua mereka memberi Wak Ama satu kilo beras lengkap dengan telur dan mi mentah.

Baca Juga:   Seorang Perempuan di Persimpangan Jalan

“Kasihan Wak Ama, sudah sepatutnya kita memberi dia meski sedikit,” ucap Matkali yang anaknya juga mengaji di musala Wak Ama.

Itulah yang tidak kau tahu, makanya aku sering menyuruhmu untuk mengunjungi musala Wak Ama, agar kau belajar keikhlasan di sana. Tentu, agar kau tidak selalu marah-marah kepada istrimu setiap saat jika masakannya kurang cocok menurut lidahmu. Kau menjadi manusia yang bebal. Dan aku, tidak tahu bagaimana cara agar kepalamu yang bagai batu itu hancur, bertebaran dan tidak lagi mejadi batu. Melainkan kerikil-kerikil kecil yang mudah disingkirkan.

Semenjak kau menikah, ulahmu semakin menjadi-jadi. Dahulu, kau tidak pernah berani kasar kepada perempuan. Jauh berbeda sesudah menikah, kau seperti serigala yang hendak menerkam para perempuan —termasuk istrimu.

Baca Juga:   Pesantren Darul Abidin Akhirnya Panen Lele

Jika kau mengunjungi musala Wak Ama dan belajar sedikit demi sedikit di sana, pasti keluargamu tidak akan pernah berantakan. Hari ini, istrimu sudah tidak ingin tidur satu ranjang denganmu hanya karena kelakuanmu yang tidak pernah menghargainya. Kau sering memukulinya, membenturkan kepalanya ke dinding yang keras itu. Teruslah, kau berkunjung sesering mungkin ke musala Wak Ama. Lalu, dengarkan nasihat-nasihatnya setiap habis salat berjamaah.

Tinggalkan Balasan