duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Muazin Tanpa Sarung

Alkisah, di sebuah pesantren di ujung Pulau Sumatera. Pada suatu hari, di pengujung malam menjelang fajar. Saat suasana masih begitu hening, udara masih begitu bersih, dan bintang-bintang nampak begitu gemerlap di angkasa, seolah menyapa pada dunia. Pagi sebentar lagi tiba.

Baca Juga:   Panggil Aku Gus Parit... (2)

Sang Kiai pagi itu melihat jam dinding menunjukkan pukul 04.30. “Sebentar lagi waktunya adzan,” gumamnya.

Advertisements
Cak Tarno

Lalu, Kiai menuju ke asrama untuk membangunkan petugas adzan subuh hari itu. Sebut saja Solikin, yang akrab dipanggil Kang Sol oleh kawan-kawan santri. Sebagai salah satu santri tertua di pesantren, Solikin terkenal begitu taat dan takzim pada Kiai.

Baca Juga:   Bila Santri Mencuci Beras

Saat mendengar suara gesrekan sendal Kiai di depan biliknya, ia langsung jenggirat bangun dan mengambil kopiahnya, mengucek-ucek matanya sambil berpura-pura kalau sudah bangun dari tadi. Solikin pun keluar dari biliknya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan