“NU itu Menang-menangan”

Peristiwa penolakan perayaan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama (NU) di Masjid Kauman Yogyakarta belum lama ini mestinya menjadi bahan muhasabah bagi pengurus dan warga NU serta seluruh warga bangsa Indonesia. Betapa masih kuatnya prasangka berkembang di masyarakat kita. Betapa tabayyun dan silaturrahmi masih terhalang kokohnya tembok segregasi.

Sikap tasammuh, tawassuth, dan tawazzun NU yang selama ini digaungkan dan dijalankan justru dianggap dan dicurigai hanya sebagai kedok atau langkah taktik politik yang arogan dan menang-menangan. NU adalah organisasi yang serakah, mau menang sendiri. NU adalah ormas yang suka mengambil alih masjid, menggusur kelompok lain, dan suka bikin onar.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Memang banyak orang dan kelompok yang merasa tersakiti oleh gerakan NU. Banyak kelompok yang merasa terancam oleh kebangkitan NU dan tidak sedikit orang yang resah karena kebesaran NU. Sikap NU menerima saudaranya bikin acara di basis-basis mereka dianggap sebagai langkah mengambil hati, sekadar basa basi yang layak diwaspadai dan dicurigai.

Baca Juga:   Kisah Preman Balyat

Oleh karena itu, ketika NU datang mendekat untuk mempererat persaudaraan maka dia layak DITOLAK karena hal itu hanya bikin onar, menebar keresahan. Itu hanya siasat untuk mengambil alih kekuasaan di masjid yang sudah mereka kuasai.

Mereka tidak sudi menerima NU yang menang-menangan dan sok nasionalis. Mereka tidak sudi menerima ulama-suu’. Mereka lebih suka menerima ulama lulusan “S3 Vatikan”. Mereka lebih bisa menoleransi gerombolan yang jelas-jelas merong-rong negara atas nama Islam beraksi di depan mata mereka.

Baca Juga:   Ibnu Khaldun dan Kurva Laffer

Nafsu dan ambisi memang membuat manusia gelap mata, sehingga sulit membedakan kebaikan dan keburukan. Bahkan, niat dan perbuatan baik sekalipun akan dilihat sebagai ancaman. Keserakahan kadang membuat manusia selalu nerasa terzalimi dan tersingkirkan meski kekuasaan sudah berada di genggaman, sehingga selalu mencurigai siapa saja yang mendekatinya, kemudian dituduh mau menguasai dan mengusik ketentraman.

Tinggalkan Balasan