Mat Rim

“Untung saja aku tak harus mengganti kambing milik juragan. Itu pun masih syukur karena masih sisa satu. Meskipun yang lain harus jadi kambing bakar,” kelakarnya.

Mat pamitan kepadaku karena harus ngarit pagi-pagi besok. Semua kata-katanya membuatku ingat dengan omongan Pak Us. Akan ada waktu saat kelebihan kawan-kawanku terlihat. Seperti Mat yang tak ingin meninggalkan ngaji, pergi mencari pakan ternak tiap pagi, atau kemampuannya membaca benakku, dan rasa sukurnya yang tak pernah mengeluh.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Saat aku masuk ke langgar tiba-tiba Pak Us nyeletuk lagi. “Ma’unah tak diberikan Tuhan pada manusia yang kalah dengan lukanya. Dia hanya memberi pada hamba yang bisa tersenyum saat susah, dan bersyukur saat bahagia.” Aku membalikkan badan. Kembali menuju ke luar langgar dan memandangi langit malam. Dengan sedikit doa, aku ingin menjadi manusia yang lebih kuat seperti Mat. Semoga saja.

Tinggalkan Balasan