Mat Rim

“Besok harus kerja bangun kandang.”

“Oh, ya sudah, hati-hati, Mat.”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Oke, bro,” jawabnya santai.

Dia memang gila. Badan yang lebih kecil dari orang seusianya, namun tidak dengan semangatnya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat kawanku Mat. Beberapa hari kemudian salah satu sanak yang mempunyai sawah mengajakku mengangkut hasil panen. Semua badanku terasa berat. Saat itu aku hanya berpikir bagaimana mengangkut semua ini agar lebih cepat selesai. Sekilas aku melihat kandang kambing milik Mat yang tampak baru. Kayunya tampak lebik kokoh dari yang lama. Gentinganya tak lagi berlumut. Dan dinding gedek yang dulu reyot di ganti dengan yang baru. Senang juga rasanya melihat hasil jerih payah Mat terbayar.

Baca Juga:   Di Hari Pernikahan

Malam itu badanku masih sama, remuk-redam. Tapi aku menanti Mat datang ke langgar untuk mengucapkan selamat. Ternyata ada Yayan yang juga mengawali datang. Kami berbincang sampai pada pembicaraan yang membuat mulutku terdiam. Hatiku mendadak gusar karena tak tahu apa-apa.

“Lah, kamu nggak tahu?”

“Aku kira kamu sudah dengar ceritanya.”

“Nggak ada yang bilang padaku,” ucapku.

Akhir pada waktu yang sama, dan rutinitas yang sama juga. Semua orang tiba, kecuali Mat yang datang agak terlambat. Kami tak sempat berbincang. Bahkan setelah ngaji, Mat hanya duduk sebentar. Lalu dia pamit kembali pulang. Saat itu kawanku yang lain sedang asik berbincang dengan Pak Us. Mat meminta tolong padaku untuk menyalakan flash di gawaiku. Karena sendalnya ditaruh di sisi pojok langgar yang gelap, kami tak terlalu bicara. Aku tak enak menanyakan perihal kandangnya yang telah terbakar hingga rata dengan tanah.

Baca Juga:   Cermin Kimin (Kado Ulang Tahunku)

“Sudahlah Kus, santai saja. Nggak ada hubungannya pekerjaan sama ngaji,” dia seolah membaca diamku.

Tinggalkan Balasan