Mat Rim

Tak terlalu lama aku pamit, karena bawaanku tak bisa ditahan terlalu lama. Namun, tetap saja kata-kata itu melekat sampai kakiku menjejakkan rumah. Aku mulai merenungkannya. Dan yang paling kuingat adalah sosok Mat Rim. Entah kenapa aku ingin melihat apa yang paling menonjol darinya. Setelah memikirkan ketiga temanku yang menonjol dari bidang akademik, sosial, dan bisnis. Tak lupa aku juga sedang mencari-cari. Bahkan sudah lama yang kucari ini tak bisa kutemukan sendiri: bakatku.

Kami kembali setiap malam seusai isya untuk ngaji lagi. Dan itu sudah menjadi rutinitas yang cukup nyaman. Meskipun kadang ada lelah dan bosan yang menyertai. Namun ketika itu kutanyakan pada Mat Rim, malah dia menjawabnya dengan mudah.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Nggak ada hubungannya ngaji dengan berbagai hal tidak menyenangkan dunia ini.”

Baca Juga:   Cerita Tiga Butir Padi

“Maksudnya Mat?” tanyaku sambil menggaruk kepalaku.

“Ya misal ngaji sama pintar. Ngaji ya ngaji, urusan pintar mah Tuhan yang ngasih. Kita sekadar menekuni.”

“Terus lagi,” dia kembali mencari contoh.

“Ngaji sama kemiskinan. Memang kalau prinsip ekonomi tanpa Tuhan kita bakal kehilangan waktu cari uang buat ngaji. Lah, tapi kita kan bertuhan. Mau kita jungkir-balik cari uang, tetap baliknya sama Tuhan, kan.”

“Iya, iya.”

Tak lama waktu kami tiba. Rutinitas itu berjalan hingga kami memasuki pertengahan SMA. Ada hari di mana aku harus pergi ke luar kota karena sepupuku menikah. Alhasil, aku berpesan agar bisa nambal ngaji kepada Mat Rim dan juga kawanku yang lain. Saat aku kembali memang terasa tak ada yang berbeda. Kecuali Mat Rim yang langsung pulang seusai ngaji dini hari.

Baca Juga:   Tukang Sayur dan Impiannya

“Lo, Mat, nggak tidur langgar saja? Biasanya kan begitu?”

Tinggalkan Balasan