Mbah Kandar dan Nujum “Ruyung Berkedok Jati”

360 kali dibaca

Melihat kondisi umat Islam saat ini, terutama di Indonesia, teringat kata-kata Mbah Kandar puluhan tahun lalu, yang terasa bagai nujum. Inilah kutipannya dalam bahasa Jawa: “Jaman akhir iku jaman jati sunduk ruyung. Okeh paguron kudhung Islam, nanging sejatine ngrusak Islam”. Artinya kira-kira begini: Zaman akhir itu adalah zaman ruyung berkedok jati. Banyak perguruan yang berkedok Islam, tetapi isi ajarannya justru merusak Islam.

Seperti telah dinujum oleh Mbah Kandar: begitu banyak dan semarak saat ini, lembaga-lembaga dakwah, lembaga-lembaga pendidikan agama, yang ajarannya justru merusak Islam. Begitu banyak individu-individu, yang mendaku sebagai pendakwah atau pun ustadz, namun ucapan dan tingkah polahnya bukan hanya jauh dari spirit Islam, tapi malah merusak citra Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Bukan mendekatkan pada ridla Allah, tapi justru menggiring pada keangkaramurkaan.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Puluhan tahun lalu, nujum itu dilengkapi nasihat Mbah Kandar yang sangat bernas: Mbok isoho mlaku sak dhuwure banyu, kok iseh demen dhuit, iku mesti dudu wali”. Artinya kira-kira begini: Meskipun bisa berjalan di atas air, tapi jika masih suka dengan duit, tentu itu bukan wali. Pendakwah atau ustadz yang gandrung akan hal keduniawian, menurut nujum Mbah Kandar itu, tentu bukan ulama yang sebenarnya. Tak perlu diikuti.

Siapa sesungguhnya Mbah Kandar?

Mbah Kandar (kanan).

Berguru pada Mbah Hasyim

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan