Kiai Tawakkal dan Lautnya

Maryono tertegun mendengarkan cerita yang disampaikan istri Kiai Tawakkal. Perhatiannya tertuju pada tiap kisah yang dituturkan; siapa tahu ada kepingan kunci yang bisa ia ambil untuk menjadi dasar keputusan apa yang perlu ia ambil. Namun sejauh ini masih nihil. Komunikasi dialogis antara keduanya masih terus berjalan dan saya masih menyaksikan skema pembicaraan tersebut. Tapi beberapa kali saya menemukan kesan bahwa musyawarah dan ngudar rasa yang sedang dilakukan akan bernasib sama. Mungkin hanya kebuntuan yang bisa dibawa pulang.

Tidak. Ini tidak buntu. Maryono meyakinkan saya sekaligus dirinya sendiri. Ia merasa baru saja mendapatkan tetesan cahaya yang ia sendiri tak tahu datangnya dari mana. Tapi, sekali lagi, ia yakin kalau ini tidak buntu. Saya mengiyakannya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Sudah larut malam, Bu Naya, saya pamit dulu. Kita sambung lain waktu pembicaraan ini sampai bertemu jalan keluarnya,” tutur Maryono sembari menengkurapkan tangannya, melihat jam tangan yang melingkar di sana: pukul 8 malam.

Baca Juga:   Seperti Laron Merubung Neon

Menuju rumah sambil berharap bisa segera meneguk air es, Maryono memutar-mutar isi kepalanya untuk mendapatkan letak tetesan cahaya yang baru saja ia terima itu. Sekaligus ia sedang menyisir pemakaman yang sedang dilewatinya, berusaha mencari letak makam Kiai Tawakkal saat malam hari begini. Agak sulit, namun bukan tidak mungkin untuk menemukannya. Setelah terlihat, Maryono merapal al-fatihah untuk dihadiahkan kepada Kiai Tawakkal.

Baca Juga:   Pulang

Mendadak air mukanya pucat, seseorang bertubuh gempal, putih, dengan senyum yang tulus dan penuh kerelaan, hadir di depan matanya.

“Tak perlu repot-repot, Yon. Tapi, terima kasih.” Maryono masih bergeming. Tak tergerak sedikit pun sandalnya dari pijakan. Hanya sarungnya yang terus berkibar.

Tadi itu, siapa? tanya saya pada Maryono.

Tinggalkan Balasan