Kiai Tawakkal dan Lautnya

146 kali dibaca

Saya adalah penutur kisah Kiai Tawakkal. Seorang kiai muda yang menjelang wafatnya, makam di mana ia bersemayam untuk selamanya, sewaktu malam hari, berubah menjadi lautan. Nyaring gemuruh ombak dan debur air menabrak karang, begitu jelas terdengar dari sana. Barangkali ada sekitar sepuluh orang yang sampai sekarang berani bersaksi bahwa pengalaman yang mereka rasakan adalah sama persis.

Nyaris tidak ada yang istimewa dari seseorang yang bernama Kiai Tawakkal ini pada saat semasa hidupnya. Ia menjalani hidup seperti manusia kebanyakan: beribadah, bekerja, belajar. Entah apa yang membuat Kiai Tawakkal mendadak menakjubkan setelah wafatnya, sampai-sampai lautan berpindah ke sepetak tanah pemakamannya. Mungkin bukan. Bukan mendadak. Kiai Tawakkal telah merencanakan ini dan kami tidak pernah tahu apa-apa mengenai hal yang demikian itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Saya berusaha melacak jejak kronologis, pemikiran, hingga keteladanan yang barangkali kebuntuan atas hal ganjil ini, dapat segera menemui jalan keluar. Kalau memang Kiai Tawakkal adalah seorang wali yang tersembunyi, maka kami akan mengungkap ketersembunyian itu, lantas mengabarkan kepada seluruh warga bahwa di kampung Jagalan pernah ada seorang waliyullah sekaligus yang pernah kita abaikan. Pada saat momentum tersebut, barulah kami dapat menimba kemuliaan dan keberkahan dari seseorang yang namanya santer di jagad langit.

“Kalau memang betul begitu, Kiai Tawakkal serupa anak tangga yang dapat mengantarkan kita ke langit,” tutur Maryono sekali waktu, saat sedang duduk melingkar bersama orang kampung lainnya yang berencana untuk memugar makam Kiai Tawakkal agar memadai apabila ada yang ingin berziarah.

“Tapi bagaimana caranya?” Rohib membungkam forum. Itu pertanyaan sulit. Ya, bagaimana cara membuktikan bahwa Kiai Tawakkal sungguhan waliyullah? Apakah ada metodologi yang valid untuk membuka rahasia langit ini? Bukan hanya Maryono dan sekumpulan gawagis kampung Jagalan yang bungkam, tapi juga desir angin yang tiba-tiba tak lagi menggoyangkan dedaunan; jangkrik dan kodok yang seolah ditelan lumpur; serta sengau malam hari yang makin menenggelamkan.

Maryono terhenyak. Ia memikirkan sesuatu tapi sulit terbit dari mulutnya. Matanya beberapa kali membelalak dan tubuhnya berguncang pelan. Orang kampung dan gawagis Jagalan belum menyadari hal itu. Maryono masih bersitegang dengan pikiran dan tubuhnya sendiri. “Apakah memang perlu? Bagaimana perasaannya kelak?” Di dalam kepalanya diburu pertanyaan-pertanyaan yang entah jawabannya.

Forum paripurna dengan kesimpulan bahwa mereka menyerah dan dengan berat hati menganggap Kiai Tawakkal adalah manusia pada umumnya, yang tak punya keajaiban semasa hidup, apalagi selepas wafat. Tapi belum bagi Maryono. “Tidak sesingkat itu,” pikirnya. Ia bersumpah akan merutuk dirinya sendiri kalau Kiai Tawakkal tidak diposisikan sebagaimana mestinya. Ia perlu strategi. Strategi komunikasi.

Dina Aynaya, adalah nama dari istri Kiai Tawakkal. Cantik, muda, cerdas. Namun bagaimanapun, ia juga rentan, pengingat masa lalu yang ulung, dan tentu saja, rapuh. Maryono membutuhkan skema komunikasi yang sangat jelas alurnya, sekaligus menyediakan rencana cadangan apabila skema komunikasinya melesat jauh dari benang merah.

Tidak ada yang bisa menahan seseorang untuk patah hati ketika mengingat bahwa orang yang sedemikian istimewanya, telah tiada bersamanya. Apa yang akan dilakukan Maryono, sungguhlah rawan bagi kondisi mental istri Kiai Tawakkal. Tak ada yang pernah mengatakan bahwa bertanya, “Apa yang dilakukan oleh suamimu semasa hidup sehingga beberapa orang memberi kesaksian kalau dari makamnya terdengar suara lautan?” kepada istri yang baru saja ditinggal wafat suami, adalah hal yang baik. Itu terlalu lancang, Maryono. Saya sedang mengingatkanmu saat ini.

Tapi tekad Maryono sudah bulat. Kiai Tawakkal sudah serupa orangtuanya sendiri semasa hidup, yang terus sabar membimbing dan tak pernah marah sebab kebodohan Maryono sendiri. Tak mungkin ia membiarkan fakta dari Kiai Tawakkal yang sebetulnya bisa diungkap, namun sebab kurang gigih dalam berusaha, menjadi sesuatu yang seolah tak pernah ada.

Ia memberanikan diri menghadap istri Kiai Tawakkal. Penuturan tiap kalimat pembukanya runtut, empuk, dan renyah. Hampir-hampir istri Kiai Tawakkal tak menaruh curiga atas kedatangan Maryono. Seolah, Maryono hanya sedang berkunjung seperti tamu lain yang menganggap Kiai Tawakkal masih menjadi sang guru; seolah fungsi robithoh (tali batin antar murid dan guru) yang masih memendarkan cahaya keilmuan di dalam relung tiap hati murid-muridnya.

Maryono memasuki topik yang telah ia rencanakan. Ia mengatur napasnya yang sengal, sesekali meremas jemari-jemarinya untuk entah. Barangkali dengan begitu, kegugupannya memudar, sehingga mudah disusupkan keberanian di antara celah itu. Lanjutkan begitu terus, Maryono, skema komunikasimu jauh lebih bagus dari perencanaanmu. Kini kau makin luwes untuk menghadapi tiap kemungkinan buruk yang sebentar lagi muncul dari jawaban maupun keputusan seseorang yang sedang kau ajak bicara ini. Setidaknya pertahankan sampai keputusan yang akan menjadi peta jalanmu itu muncul dari balik pertimbangan istri Kiai Tawakkal.

“Saya menghargai rencanamu, Yon, tapi malam tadi saya tidur tak jenak dan bermimpi yang saya rasa nyata sekali.” Entah kalimat itu pertanda baik atau buruk, kau jangan terburu-buru menyimpulkannya. Dengarkan dulu.

“Saya bermimpi Abah (sebutan untuk Kiai Tawakkal dari istrinya) sedang berjalan ke masjid Jagalan. Persis sekali seperti aktivitas yang Abah lakukan sehari-hari. Tidak ada yang aneh. Sampai ketika saya melihat Abah menengok ke arah saya, tersenyum dengan penuh ketulusan dan kerelaan, entah untuk ketulusan dan kerelaan yang mana. Saat menyaksikan senyum dan pengalaman rasa yang ganjil itu, saya tertumbuk pada satu kesimpulan bahwa perasaan yang baru saja saya alami di mimpi itu, adalah perasaan yang sama ketika saya sedang bermain di pantai bersama Abah dan anak-anak. Selepas itu, saya terbangun.”

Maryono tertegun mendengarkan cerita yang disampaikan istri Kiai Tawakkal. Perhatiannya tertuju pada tiap kisah yang dituturkan; siapa tahu ada kepingan kunci yang bisa ia ambil untuk menjadi dasar keputusan apa yang perlu ia ambil. Namun sejauh ini masih nihil. Komunikasi dialogis antara keduanya masih terus berjalan dan saya masih menyaksikan skema pembicaraan tersebut. Tapi beberapa kali saya menemukan kesan bahwa musyawarah dan ngudar rasa yang sedang dilakukan akan bernasib sama. Mungkin hanya kebuntuan yang bisa dibawa pulang.

Tidak. Ini tidak buntu. Maryono meyakinkan saya sekaligus dirinya sendiri. Ia merasa baru saja mendapatkan tetesan cahaya yang ia sendiri tak tahu datangnya dari mana. Tapi, sekali lagi, ia yakin kalau ini tidak buntu. Saya mengiyakannya.

“Sudah larut malam, Bu Naya, saya pamit dulu. Kita sambung lain waktu pembicaraan ini sampai bertemu jalan keluarnya,” tutur Maryono sembari menengkurapkan tangannya, melihat jam tangan yang melingkar di sana: pukul 8 malam.

Menuju rumah sambil berharap bisa segera meneguk air es, Maryono memutar-mutar isi kepalanya untuk mendapatkan letak tetesan cahaya yang baru saja ia terima itu. Sekaligus ia sedang menyisir pemakaman yang sedang dilewatinya, berusaha mencari letak makam Kiai Tawakkal saat malam hari begini. Agak sulit, namun bukan tidak mungkin untuk menemukannya. Setelah terlihat, Maryono merapal al-fatihah untuk dihadiahkan kepada Kiai Tawakkal.

Mendadak air mukanya pucat, seseorang bertubuh gempal, putih, dengan senyum yang tulus dan penuh kerelaan, hadir di depan matanya.

“Tak perlu repot-repot, Yon. Tapi, terima kasih.” Maryono masih bergeming. Tak tergerak sedikit pun sandalnya dari pijakan. Hanya sarungnya yang terus berkibar.

Tadi itu, siapa? tanya saya pada Maryono.

“Kiai Tawakkal,” ucap Maryono. “Tanpa lautan,” lanjutnya.

ilustrasi: lukisan raden salah (1840).

Multi-Page

Tinggalkan Balasan