Kiai Tawakkal dan Lautnya

Ia memberanikan diri menghadap istri Kiai Tawakkal. Penuturan tiap kalimat pembukanya runtut, empuk, dan renyah. Hampir-hampir istri Kiai Tawakkal tak menaruh curiga atas kedatangan Maryono. Seolah, Maryono hanya sedang berkunjung seperti tamu lain yang menganggap Kiai Tawakkal masih menjadi sang guru; seolah fungsi robithoh (tali batin antar murid dan guru) yang masih memendarkan cahaya keilmuan di dalam relung tiap hati murid-muridnya.

Maryono memasuki topik yang telah ia rencanakan. Ia mengatur napasnya yang sengal, sesekali meremas jemari-jemarinya untuk entah. Barangkali dengan begitu, kegugupannya memudar, sehingga mudah disusupkan keberanian di antara celah itu. Lanjutkan begitu terus, Maryono, skema komunikasimu jauh lebih bagus dari perencanaanmu. Kini kau makin luwes untuk menghadapi tiap kemungkinan buruk yang sebentar lagi muncul dari jawaban maupun keputusan seseorang yang sedang kau ajak bicara ini. Setidaknya pertahankan sampai keputusan yang akan menjadi peta jalanmu itu muncul dari balik pertimbangan istri Kiai Tawakkal.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

“Saya menghargai rencanamu, Yon, tapi malam tadi saya tidur tak jenak dan bermimpi yang saya rasa nyata sekali.” Entah kalimat itu pertanda baik atau buruk, kau jangan terburu-buru menyimpulkannya. Dengarkan dulu.

Baca Juga:   Kurir Ayam Geprek

“Saya bermimpi Abah (sebutan untuk Kiai Tawakkal dari istrinya) sedang berjalan ke masjid Jagalan. Persis sekali seperti aktivitas yang Abah lakukan sehari-hari. Tidak ada yang aneh. Sampai ketika saya melihat Abah menengok ke arah saya, tersenyum dengan penuh ketulusan dan kerelaan, entah untuk ketulusan dan kerelaan yang mana. Saat menyaksikan senyum dan pengalaman rasa yang ganjil itu, saya tertumbuk pada satu kesimpulan bahwa perasaan yang baru saja saya alami di mimpi itu, adalah perasaan yang sama ketika saya sedang bermain di pantai bersama Abah dan anak-anak. Selepas itu, saya terbangun.”

Tinggalkan Balasan