Kamar Kosong

“Kenapa kamu memberikannya padaku?” tanyanya.

“Aku bingung harus memberikan kado itu pada siapa. Teman-temanku selalu merayakan hari ibu, sedangkan aku tidak punya ibu. Kata ayah, ibu meninggal setelah melahirkan aku. Aku mohon, terimalah kado itu!” pintaku.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Hantu itu memelukku. Tubuhnya dingin. Wajahnya yang cantik mencium keningku. Walaupun tubuhnya dingin, tapi kecupannya tetap hangat. Ia selalu menciumku di malam hari ketika aku mau tidur. Ia membelai rambutku. Mengiringi tidurku dengan sebuah nyanyian pengantar tidur. Aku menyukai semua itu.

Baca Juga:   Bulan Kesiangan

Aku mulai tertidur. Ia bangkit dari tempat tidurku. Seketika aku pun terbangun dari tidurku. Ia melayang menuju pintu. Tubuhnya menembus pintu, melayang bertelanjang kaki menuju kamar yang aku sebut dengan kamar misterius itu.

Suara ketukan kaki menaiki tangga terdengar. Ayah menaiki tangga. Ayah mendapatiku masih terjaga. Ia tersenyum.

“Kenapa belum tidur? Ini sudah malam,” ucap ayah.

Baca Juga:   Senja di Kebun Kapulaga

Ia menyuruhku untuk tidur, kemudian menciumku. Selanjutnya ia mematikan lampu.

Tinggalkan Balasan