Azan Mat Cadel

Mat Cadel masih menunggu. Matanya tak lekang menatap pintu utama masjid. Berharap Wak Hasyim segera datang. Paling tidak beberapa atau satu dua warga akan datang. Namun tak ada yang datang sama sekali.

“Siapa yang akan azan?” batinnya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pertanyaan itu semakin bergemuruh di kepala Mat Cadel. Kalau Wak Hasyim tak datang, ia tidak tahu siapa yang akan mengumandangkan azan Subuh hari ini. Tentu ia takkan berani untuk mengambil alih. Tiba-tiba hujan menyergap Subuh temaram ini. Mat Cadel semakin gelisah. Ketika hari biasa saja jarang yang mau datang ke masjid, apalagi sekarang kondisinya hujan deras disertai petir.

Baca Juga:   Sepucuk Surat Al

Waktu semakin mendekati Subuh. Mat Cadel memberanikan diri berdiri di depan mikrofon masjid. Tangannya gemetar ketika memegangnya. Ia ingin sekali azan, namun masih ragu. Tetapi, akhirnya Mat Cadel mengumandangkan azan juga. Tak ada pilihan lain. Gema azan dari pengeras suara masjid menyatu dengan gemuruh hujan. Entah suaranya sampai ke telinga orang-orang yang barangkali sedang terlelap atau tidak, Mat Cadel tetap melanjutkan azannya.

Tiba-tiba terjadi keributan di halaman masjid. Orang-orang berdatangan dalam kondisi basah kuyup. Mat Cadel menyadari itu semua, namun ia berusaha konsentrasi dengan azannya.

“Tidak mungkin,” celetuk salah seorang dari mereka.

Baca Juga:   Bapak

“Cadel bisa azan?” sahut lainnya lagi.

Warga yang datang hanya tertegun di muka pintu. Mereka saling pandang. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Betapa pun, tak ada yang bisa mengelak bahwa suara azan Mat Cadel Subuh ini teramat merdu. Bahkan, mampu menggerakkan hati mereka untuk datang ke masjid. Dari belakang, ibu Mat Cadel muncul tergopoh-gopoh. Menyelinap di antara orang-orang yang lebih dulu datang.

Tinggalkan Balasan