Azan Mat Cadel

Mat Cadel duduk bersila di sudut ruangan masjid. Ia hanya mampu mengamati anak-anak yang berebut mikrofon masjid untuk azan. Anak-anak itu sangat bersemangat agar bisa azan. Mereka sudah berguru dengan Wak Hasyim, muazin sekaligus pemilik suara merdu di kampung ini. Untuk itulah mereka ingin membuktikan kemampuannya.

Mat Cadel tersenyum tipis. Dirinya bukan lagi anak kecil seperti mereka, tetapi ia juga sangat menginginkan untuk bisa azan. Namun karena keterbatasannya, Mat Cadel tidak bisa melakukannya. Sebab, ia tak mampu berbicara secara normal. Demikianlah, ia dijuluki Mat Cadel karena ketakbisaannya berbicara seperti orang-orang pada umumnya.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pernah suatu kali Mat Cadel azan, namun setelah itu ia justru menjadi bahan pergunjingan warga. Mat Cadel dianggap menghina lafaz azan karena ia mengumandangkan azan dengan bacaan yang tidak lazim. Padahal, ia bukan mempermainkan lafaz azan, melainkan lidahnya sering kali terasa kaku ketika mengucap huruf R, S, Z, dan sejenisnya.

Baca Juga:   Tertipu Pencuri yang Lihai

Meski begitu, ibu Mat Cadel tidak henti-hentinya mendukung putranya agar bisa azan. Sang ibu selalu memberikan pujian terhadap azan Mat Cadel. Tetapi, Mat Cadel telanjur tidak diperkenankan azan lagi. Bilamana ia azan hanya akan membuat kegaduhan sekaligus mengganggu gendang telinga orang yang mendengarkan, karena suaranya memang tidak enak didengar.

“Kamu tidak usah azan lagi. Biar yang lain saja. Kamu tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang muazin,” ucap imam masjid, suatu hari.

Baca Juga:   HP Baru untuk Eki

Ucapannya benar-benar menyakiti hati Mat Cadel. Namun, ia sendiri tidak dapat mengelak bahwa suaranya memang tidak semerdu Wak Hasyim. Ia pun tidak berani untuk azan lagi.

Keberadaan Mat Cadel di kampung itu selalu jadi bahan pembicaraan orang-orang. Bukan hanya karena ia cadel. Mat Cadel juga dipergunjingkan karena kaki kanannya lebih panjang lima senti daripada kaki kirinya. Ketika berjalan, tubuh Mat Cadel akan bergoyang ke kiri dan ke kanan. Ia seperti orang pincang. Bahkan, tak jarang anak-anak juga mengejeknya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan