Azan Mat Cadel

Menurut cerita ibunya, dulu ketika Mat Cadel berusia delapan tahun, ia dibawa ke tukang pijat bayi di kampungnya. Namun, menurut cerita, tukang pijat itu hanya memijat satu kaki saja, sedang satu kaki lainnya tidak. Maka begitulah kaki Mat Cadel panjang sebelah. Namun, Mat Cadel menganggap cerita itu hanyalah hiburan semata. Ia tidak terlalu menganggap serius. Baginya apa yang menjadi takdirnya hari ini, adalah yang terbaik untuknya.

Usai salah seorang menyelesaikan azannya, salat Asar segera dilaksanakan. Saf depan diisi orang-orang tua dan orang penting di kampung ini. Sedang Mat Cadel berada di saf paling belakang bersama anak-anak kecil.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Selain azan, satu lagi keinginan Mat Cadel yang tidak kalah penting adalah memakmurkan masjid. Tentulah Mat Cadel mafhum, bagaimana sifat warga kampungnya yang sulit sekali untuk sekadar diajak salat berjemaah di masjid. Hanya ada beberapa yang bersedia datang, itu pun dua atau tiga hari sekali. Di sisi lain, orang-orang itu akan mengantre ketika pembagian sembako. Lain dari itu, warga hanya datang ke masjid ketika salat Id saja. Satu lagi, kalau sedang mengadakan pengajian dan panitia menyediakan nasi bungkus, barulah mereka menyambangi masjid, meskipun hanya beberapa saja.

Baca Juga:   Izinkan Aku Tak Kembali Padamu, Bu

Selebihnya, masjid hanyalah sebagai simbol bangunan yang menandakan bahwa mayoritas warga kampung tersebut beragama Islam. Berkali-kali Mat Cadel mengingatkan warga kampung. Tetapi, tetap saja bujukannya tidak mempan sama sekali.

“Jangan urus hidup orang lain, urus dirimu sendiri.”

“Dosa saya urusan saya, bukan urusan kamu.”

“Perbaiki dulu bicaramu, baru kau menasihati orang lain.”

Baca Juga:   Cinta Rumi(t)

Demikianlah jawaban dari orang-orang kampungnya ketika dinasihati.

***

Masih dalam suasana remang-remang, Mat Cadel dilanda cemas. Sebentar lagi akan masuk waktu Subuh, namun Wak Hasyim belum juga datang. Biasanya Wak Hasyim selalu datang tepat waktu, lalu mengumandangkan azan dengan suara merdunya. Namun, kali ini belum ada tanda-tanda Wak Hasyim datang.

Tinggalkan Balasan