Uang dan Surga

418 kali dibaca

Dibandingkan dengan usia peradaban, uang terbilang sebagai temuan baru masyarakat manusia. Ia kemudian mendorong proses perubahan semakin cepat, seiring dengan perkembangan teknologi. Hidup menjadi semakin mudah, tapi juga rapuh. Karena uang, banyak orang terpeleset dan jatuh.

Sedari mula hidup adalah pertukaran. Pertukaran barang dengan barang, barang dengan jasa, atau jasa dengan jasa. Itu sebelum ditemukannya alat tukar yang disebut: uang.

Advertisements

Di zaman yang paling mula (orang sekarang menyebutnya: primitif), setiap orang (bisa) hidup dengan sederhana. Setiap orang bisa memenuhi dan mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri: makanan, pakaian, tempat berlindung. Dengan cara berburu atau berladang. Dengan cara nomad atau mukim.

Baca juga:   Pesantren sebagai Miniatur Keindonesiaan

Di zaman yang paling mula itu, masyarakat manusia hidup berkelompok-kelompok. Tiap kelompok mampu memproduksi semua barang yang dibutuhkan oleh kelompoknya sendiri. Namun, rupanya pertambahan jumlah orang tak selalu berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas produksi. Ada kalanya satu kelompok dengan anggota 10 orang hanya mampu berproduksi untuk memenuhi kebutuhan 9 orang. Saat itulah orang mengenal apa yang disebut defisit.

Untuk menutup defisit itulah lalu muncul pertukaran. Ada kelompok yang kelebihan produksi atas suatu barang, ada yang produksinya tidak mencukupi untuk kebutuhan barang yang sama. Maka terjadilah pertukaran barang yang disebut barter.

Seiring dengan perkembangan struktur masyarakat yang makin kompleks, kebutuhan-kebutuhan orang juga mulai beragam. Bukan melulu soal bahan pangan, tapi juga pakaian, tempat tinggal dan peralatan rumah tangga, perhiasan, dan sebagainya. Saat itulah, kegiatan ekonomi dalam arti yang sebenarnya dimulai namun masih dengan sistem barter. Orang bisa bertukar bahan pangan dengan peralatan rumah tangga, bertukar perhiasan dengan pakaian, bertukar domba dengan gandum, misalnya, dan lain sebagainya.

Baca juga:   Puluhan Santri Nuris Jember Lolos SNMPTN

Rupanya, ketika masyarakat manusia kian berkembang menjadi semakin kompleks, sistem barter dianggap tak lagi efisien. Sangat merepotkan. Misalnya, pertukaran barang dengan jarak tempuh yang jauh memerlukan alat angkut yang memadai. Maka, orang memerlukan alat tukar yang lebih efisien. Dan ditemukanlah uang.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan