NU dan Kemaslahatan Negara

Tanggal 31 Januari 2021 Nahdlatul Ulama (NU) merayakan hari lahir (harlah) yang ke-95. Sudah begitu lama dan hampir satu abad NU berdiri untuk menyebarkan dakwah Islam yang sesuai dengan fitrah dan ajaran yang benar, dan yang seharusnya memang diketahui dan diamalkan oleh seluruh umat dan masyarakat yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dari tanggal 31 Januari 1926, NU hadir dan menyebarkan ajaran Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai dan norma-norma yang sangat mulia. KH Hasyim Asy’ari, seorang ulama besar yang menjadi salah satu pendiri NU, itu merupakan suatu anugerah dan karunia yang sangat besar dan kenikmatan yang tiada ada tandingnya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Terutama, bagaimana cara mengajarkan kepada masyarakat Indonesia untuk berperilaku dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, nilai-nilai agama, dan patriotism.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Ketika pada zaman penjajahan Jepang, beliau yang mengumandangkan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober untuk menumbuhkembangkan jiwa nasionalisme kepada para santri dan masyarakat Indonesia. Seruan hubbul wathon minal iman juga selalu dikumandangkan agar para santri dan masyarakat Indonesia mencintai tanah airnya. Dari sanalah, semangat santri dan masyarakat Indonesia makin berkobar dalam melawan penjajahan dan menjaga keutuhan negara Indonesia.

Baca Juga:   Pendidikan Pesantren (3): Sorogan dan Transmisi Keilmuan

Meskipun sejarah kurang memberi tempat akan peran santri dan kiai dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi di hati para santri bukan suatu masalah besar tidak dicatat oleh sebagian sejarawan bahwa santri mempunyai peran penting dan garda terdepan ketika sedang membela dan menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka.

Selanjutnya, melalui NU, para kiai juga terus mengajarkan kepada umat bagaimana cara menghargai kaum beragama yang berkeyakinan berbeda. Tali persaudaraan yang diajarkan oleh NU kepada kita untuk kemaslahatan yang ada di negara ini merupakan ajaran yang sangat mulia dan sangat bermakna. Tidak ada unsur provokasi atau propaganda terhadap negara atau kepada agama lain demi utuhnya NKRI.

Tinggalkan Balasan