Islam dan Arogansi Sosial

469 kali dibaca

Polemik terkait cuitan Abu Janda atau Permadi Arya, bahwa Islam adalah arogan menjadi sebuah diskursus yang melahirkan perseteruan. Meskipun sudah diklarifikasi oleh Abu Janda bahwa terjadi perubahan maksud dari tujuan sebelumnya, namun hingga saat ini polemik masih terus bergulir bahkan hingga ke ranah hukum. Setidaknya, klarifikasi dari tertuduh, Abu Janda, menjadi bukti bahwa tweet itu tidak bermaksud mendeskriditkan Islam. Sebab Islam itu sudah final sebagai agama yang harus dihormati, sama seperti agama-agama lainnya. Namun ungkapan yang dinilai nirakhlak oleh sebagian orang (nitizen) akan terus menjadi perdebatan.

Dalam KBBI dijelaskan bahwa arogan adalah sikap sombong, angkuh, dan besar kepala. Terkait dengan definisi ini, bahwa tidak ada korelasi antara Islam dengan arogan. Sebab, nilai ajaran Islam dan juga agama lainnya mendorong pada kesejahteraan dan kedamaian. Sangat riskan sekaligus absurd ungkapan arogan disandingkan dengan agama mana pun, termasuk Islam.

Advertisements

Di dalam agama mana pun tidak dibenarkan membangun suatu hubungan permusuhan. Perseteruan dan perpecahan hanya akan menimbulkan silang sengketa dalam kehidupan sosial. Maka tidak dibenarkan, hanya karena alasan untuk viral atau ingin terkenal, kemudian membuat kegaduhan dan kisruh di ranah publik. Hal ini tidak lepas dari sikap personal yang hanya akan menimbulkan perpecahan yang berkepanjangan.

Baca juga:   Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Berpulang

Islam Agama Damai

Rasulullah saw dalam sebuah haditsnya bersabda, “Tidak akan masuk surga kalian sebelum beriman. Dan, kalian tidak dikatakan beriman sebelum saling menyayangi. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika dilakukan akan membuat kalian saling menyayangi? Sebarkan salam (damai) di antara kalian.” (HR. Muslim).

Islam menganjurkan hidup yang damai, saling menghargai, dan saling menyayangi. Tidak ada dalam ajaran Islam yang menganjurkan untuk berbuat apatis, hipokrit, dan munafik. Karena sifat-sifat ini hanya akan memperburuk berkehidupan sosial. Tujuan kita hidup adalah untuk saling memberikan kemanfaatan. Khairunnas ‘anfa’uhum linnas, (sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya). Sehingga kesalingan dalam kebaikan ini akan menjadi dasar utama dalam berkehidupan yang damai.

Baca juga:   Salman yang Melamar, Darda yang Menikah

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan