Potret Pesantren Mandiri (5): Nahdlatul Ulum Maros

Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, Soreang, Maros, Sulawesi Selatan, didirikan pada 2001. Pesantren yang dipimpin (almarhum) KH M Sanusi Baco ini bermula dari wakaf lahan seluas luas 3,7 hektare dari Wakil Presiden HM Jusuf Kalla. Atas bantuan dari Gubernur Sulawesi Selatan (saat itu) Zainal Basri Palaguna bersama sejumlah ulama dan tokoh muslim Sulawesi Selatan, di atas lahan tersebut dibangun asrama untuk santri putra dan putri.

Kini, pesantren tersebut telah berkembang demikian pesat dengan jumlah santri sekitar 1000 orang. Para santri ini berlajar di berbagai jenjang pendidikan formal dan nonformal yang ada di lingkungan pesantren, lengkap dengan program pendidikan life skill.  Didukung dengan unit-unit usaha yang terus dikembangkan, Nahdlatul Ulum akhirnya ditetapkan sebagai salah satu dari 9 percontohan pesantren mandiri oleh Kementerian Agama.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Pesantren Nahdlatul Ulum mengawali pembelajaran pada 2002. Yayasan Al- Asy`ariyah An-Nahdliyah (dulu bernama Yayasan Al-Asy’ariyah) Makassar, resmi menyelenggarakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan menerima santri yang menempati asrama yang telah disediakan. Dalam kurun waktu 16 tahun, Pesantren Nahdlatul Ulum ini mampu mengembangkan luas area yang semula 3,7 hektare, menjadi 4,5 hektare. Sebuah pencapaian yang menjadi kriteria dalam penilaian pesantren mandiri. Mandiri dalam mengembangkan potensi diri dengan Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dan mampu bersaing dalam khazanah kehidupan.

Baca Juga:   Bissu dan “Manusia Paripurna”

Sistem pendidikan yang ada di Pesantren Nahdlatul Ulum ini adalah terdiri dari pendidikan formal, meliputi Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs.), dan Madrasah Aliyah (MA). Sementara itu juga terdapat pendidikan nonformal yang meliputi Madrasah Diniyah dan Tahfizul Quran. Lainnya lagi merupakan bidang ekstra kurikuler, seperti bidang keagamaan, bidang kepemimpinan, bidang olah raga, bidang bahasa, bidang seni, jurnalistik, dan bidang keterampilan. Yang terakhir ini berupa keterampilan menjahit atau border (tata busana).

Baca Juga:   Karomah Mbah Kholil (7): Kisah Pencuri Ilmu Kiai
Aminah Mart Milik Pesantren Nahdlatul Ulum.

Menjadi Pesantren Mandiri

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

4 Replies to “Potret Pesantren Mandiri (5): Nahdlatul Ulum Maros”

Tinggalkan Balasan