Buku tafsir puisi oleh K. M. Faizi

“Nyalasar”: Menafsir Puisi, Menyelami Makna Kata-kata

Nyalasar, secara etimologi berasal dari kata salasar, yaitu sebuah alat untuk menghaluskan kayu, meratakan, dan melicinkan permukaan kayu hingga nampak serat-serat kayu yang terlihat akan semakin indah. Salasar juga alat untuk membentuk kayu dari yang tidak baik menjadi lebih baik dan lebih berkualitas serta bermakna. Sedang kata turunan dari salasar adalah nyalasar, yaitu perbuatan seseorang (biasanya tukang kayu) untuk menghaluskan permukaan kayu dengan menggunakan (alat) salasar.

Nyalasar, kali ini adalah sebuah judul buku karangan M Faizi, yang di dalamnya merupakan bahasan atau jabaran dari beberapa puisi. Jelasnya, nyalasar dalam buku ini adalah “Menyelami Makna, Memaknai Kata-kata,” memparafrasekan puisi, menafsirkan makna puisi sehingga kata-kata, frase, atau kalimat di dalam sebuah puisi semakin transparan, termaksud, dan termaktub menjadi jabaran-tafsir yang semakin nampak jelas. Dalam hal ini, pengarang buku, M Faizi memberikan statemen “tafsir puisi manasuka.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Tafsir puisi manasuka,” sebagaimana yang dijelaskan secara langsung oleh M Faizi, meski mungkin tidak bermaksud menjelaskannya ketika saya bersua langsung dengan Beliau saat memburu buku yang “tidak mudah didapat” ini. Alhamdulillah, saya termasuk seseorang yang diberi nikmat oleh Allah SWT untuk memiliki buku berkarakter ini. Saya juga berterima kasih kepada teman seperjuangan saya, Muntasir, yang telah mengusahakan saya untuk berjumpa dengan pengarang, M Faizi.

Baca Juga:   Mendalami Metodologi Islam Nusantara

Memaknai atau menfasirkan makna puisi bukan perkara mudah. Tentu, masing-masing individu mempunyai pengalaman tersendiri tentang ini. Tetapi, menafsirkan puisi degan bahasa yang ringan, santai, dan mudah dimengerti harus mempunyai kecakapan (skill) tersendiri hingga dapat mewujudkan sebuah tafsir yang tidak bosan dibaca dan dan tidak ribet ditelaah. M Faizi mempunyai kecakapan tersendiri untuk menafsirkan puisi dengan kalimat-kalimat biasa tetapi berkesan luar biasa. Memaknai kata-kata yang tersirat menjadi tersurat. Menafsirkan frase-frase yang “jlimet” menjadi nampak arti yang dimaksud. Keterampilan untuk menjadi penafsir yang seperti ini memerlukan aspek dan sisi ilmu, pengetahuan, pengalaman, dan tentu saja penguasaan linguistik yang tidak sederhana.

Tinggalkan Balasan