Misteri Pensil Arga

871 kali dibaca

“Sudah siap untuk berangkat?” tanya Sukati kepada Arga. “Sini, kutalikan sepatumu!”

Arga dengan diam melangkahkan kakinya menuju ibunya.

Advertisements

“Kamu jangan berkelahi lagi, nanti kamu tidak boleh sekolah.”

“Mereka terus meledekku.”

“Biarkan mereka meledekmu. Toh tidak akan terluka kamu diledek anak-anak itu. Sudah tidak ada lagi yang tertinggal? Sudah kamu cek PR dan buku-bukumu?”

Arga hanya mengangguk. Tapi ibunya tidak percaya begitu saha. Sebab, Arga adalah anak yang istimewa. Di umur yang kedelapan belas tahun, ia masih duduk di kelas VII SMP. Ia menderita retardasi mental. Karena itu, kemampuan Arga berpikir tidak bisa berkembang melebihi anak usia tujuh tahun.

Ibunya harus membanting tulang dengan ekstra karena suaminya tak kembali semenjak Arga dalam kandungan. Beban hidup yang berat semasa ia hamil membuat perkembangan bayi Arga tidak normal.

Dulu Sardi memohon kepada istrinya, Sukati, untuk mencarikan uang saku buat pergi menjadi TKI di perkebunan sawit. Sebenarnya, Sukati tidak mengizinkan Sardi pergi merantau ke Malaysia. Ia begitu mengenal Sardi yang bermental tempe. Di mana pun bekerja, ia tidak akan betah karena perilakunya yang bermalas-malasan. Tetapi karena rayuan manis Sardi, akhirnya ia mau menjual sawah satu-satunya yang menjadi sumber penghasilan keluarganya.

***

“Hampir setiap hari bajumu kotor, Ga. Ada apa denganmu?”

“Deni nakal, selalu menggangguku.”

“Mengganggumu seperti apa?”

“Menjatuhkanku ke tempat yang kotor.”

Melihat Arga sering dirundung, Sukati menjadi iba. Esok paginya ia berniat menghadap Bu Rini untuk mengadukan agar Arga tidak dirundung lagi.

“Selamat pagi Bu, saya ingin menemui Bu Rini.”

“Silakan masuk Bu. Silakan duduk di sini, saya panggilkan dulu Bu Rini.” Jawab seorang guru laki-laki. Pak Guru itu pun berdiri melangkahkan kakinya. Selang beberapa lama Bu Rini, wali kelas Arga, datang.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan