Menjaga Etika Publik di Ruang Publik

778 kali dibaca

Kembali, ruang publik baru yang tercipta akibat perkembangan teknologi informasi dan komunikasi diwarnai sengkarut percakapan akibat sebuah cuitan yang dinilai melebihi batas etika publik.

Kegaduhan itu dipicu sebuah konten “meme” yang diunggah oleh Kharisma Jati, seorang komikus asal Yogyakarta, dengan menjadikan foto Ibu Iriana yang berpose dengan Kim Keon Hee sebagai bahan konten. Meme tersebut diunggah dalam sebuah akun miliknya pada salah satu platform media sosial pasca gelaran Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Bali.

Advertisements

Padahal kita tahu, Ibu Iriana selain sebagai seorang ibu, juga seorang perempuan yang tak lain adalah istri dari Presiden Joko Widodo. Tentu harus diberikan penghormatan padanya sebagai Ibu Negara. Begitu juga dengan Kim Keon Hee, sebagai seorang Istri dari Presiden Korea Selatan, harus diberikan penghormatan dan ditempatkan sebagai Ibu Negara.

Baca juga:   Tauhid: Pandangan Dunia dan Epistemologi Relasional

Sementara, meme dengan foto Ibu Iriana yang berpose dengan Kim Keon Hee ini, ketika diberikan kode tambahan dengan narasi dialog meski sangat pendek, adalah sebuah komunikasi yang kurang etis. Karenanya, cuitan itu menuai respons publik secara spontanitas. Inilah cuitannya:

“Bi, tolong dibuatkan tamu kita minum.”
.”Baik, Nyonya.”

Terhadap cuitan tersebut, sebagian besar komentar dari netizen menilainya sebagai pesan komunikasi yang merendahkan, bahkan mengandung unsur penistaan sehingga perlu diproses secara hukum.

Baca juga:   Gus Dur dan Sekolah Umum di Lingkungan Pesantren

Artikel ini mencoba memahami bahwa fenomena komunikasi yang sedang terjadi dalam ruang publik baru ini dapat memberikan gambaran bagaimana pengguna media sosial masih menjadikan kebebasan berekspresi sebagai pemicu tumbuhnya budaya komunikasi yang cenderung tidak terkontrol, bahkan melanggar etika publik.

Mengingat, model komunikasi semacam ini, sesungguhnya sedang menunjukkan bagaimana komunikasi dilakukan dalam ruang virtual, di mana konten-kontennya diproduksi secara bebas dan seolah mengabaikan persoalan nilai (etis, moral, spiritual).

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan