duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Mencari Iman yang Hilang

Hingga bertahun-tahun kemudian, tak pernah ada yang tahu sebab musabab Iman pergi, dan ke mana ia menghilang selama ini —dan tak pernah kembali.

Hari itu waktu telah memasuki surup. Ngatinah duduk tepekur di emperan rumah. Dan hatinya mulai cemas ketika azan sayup-sayup terdengar dari masjid seberang jalan, anak yang paling disayang tak kunjung pulang.

Advertisements
Cak Tarno

Iman, anak bungsunya itu, belum lama mentas dari pondok. Sepulang dari pesantren Iman tumbuh sebagai remaja yang tertib dan rajin beribadah. Juga sangat takzim kepada kedua orangtuanya, dan menghormati kakak-kakaknya. Jika ia keluar rumah untuk suatu keperluan, sesaat sebelum suara azan berkumandang, pasti ia telah kembali dan segera ke masjid seberang jalan untuk salat berjamaah.

Baca Juga:   Harmoni dalam Sinekdoke

Karena itulah, hari itu, ketika surup tiba, Ngatinah menjadi gelisah. Iman tak kunjung datang. Sampai gelap bergelayut perlahan, tubuh ringkih Ngatinah masih terduduk seperti patung di atas bangku panjang di emperan rumahnya.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan